pemisahan dan pemurnian

BAB 1

PENDAHULUAN

 

1.1       Latar Belakang

Pemisahan dan pemurnian merupakan suatu cara yang dilakukan untuk memisahkan atau memurnikan suatu ssenyawa atau sekelompok senyawa yang mempunyai susunan kimia yang berkaitan dari suatu bahan, baik dalam skala laboratorium maupun skala industri. Pada prinsipnya, pemisahan dilakukan  untuk memisahkan dua zat atau lebih yang saling bercampur, sedangkan pemurnian dilakukan untuk mendapatkan zat murni dari suatu zat yang telah tercemar oleh zat lain.

Pemisahan dan pemurnian campuran memiliki manfaat yang sangat penting dalam ilmu kimia, industri maupun dalam kehidupan sehari-hari, dalam banyak kasus kita dapat menggunakan material tanpa pemurnian, baik material itu dari alam (misalnya minyak tanah) atau yang disintesis di laboratorium, Pemisahan atau pemurnian dengan metode tertentu perlu dilakukan. Demikian pula dalam pekerjaan di laboratorim maupun dalam proes industi banyak yang melibatkan pemisahan dan pemurnian. Misalnya pengolahan bijih dari pertambangan, pemisahan logam dari mineralnya, pengolahan minyak bumi, pengolahan air minum dan lain-lain. Sedangkan contoh sederhana pemisahan dan pemurnian yang sering dilakukan dalam kehidupan sehari-hari misalnya pemisahan ampas kelapa dengan santannya yang dilakukan dengan metode penyaringan.

Dalam melakukan pemisahan dan pemurnian diperlukan pengetahuan dan keterampilan, terutama jika harus memisahkan komponen dengan kadar yang sangat kecil. Untuk tujuan itu, dalam ilmu kimia telah dikembangkan berbagai cara pemisahan dari pemisahan sederhana yang serig dilakukan sehari-hari sampai metode pemisahan dan pemurnian yang kompleks atau tidak sederhana.

Zat atau materi dapat dipisah dari campurannya karena campuran tersebut memiliki perbedaan  sifat, itulah yang mendasari pemisahan campuran atau dasar pemisahan.

Dalam kenyataannya pemisahan dan pemurnian tidak dapat dipisah satu sama lain. Kita akan melihat bahwa ketika metode pemisahan dan pemurnian baru dikembangkan, ilmu kimia akan mendapatkan kemajuan yang besar.

Percobaan pemisahan dan pemurnian ini dilakukan agar kita dapat mengetahui jeni-jenis pemisahan dan pemurnian pada campuran dan bagaimana aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu percobaan ini perlu dilakukan.

1.2 Tujuan

-        Mendapatkan zat murni dari suatu zat yang telah tercemar oleh zat lain

-        Untuk mengetahui warna sirup setelah disaring dengan norit dan kertas saring

-        Untuk mengetahui ap yang terjadi setelah campuran air dan pasir dipisahkan

-        Untuk mengetahui apa yang terbentuk setelah campurn grm dan air dipisahkan dengan cara Kristalisasi.

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

Suatu campuran diklarifikasikan sebagai homogeny dan heterogen. Campuran heterogen terdiri atas fasa-fasa tersendiri. Dan sifat-sifat yang teramati merupakan gabungan daripada fasa-fasa tunggal. Sementara campuran homogen terdiri atas fasa tunggal yang sangat berbeda dari komponen-komponen tunggalnya.

Larutan didefinisikan sebagai zat homogeny yang merupakan campuran dari dua komponen atau lebih, yang dapat berupa gas, cairan, atau padatan. Larutan gas dibuat dengan cara mencampurkan suatu gas dalam gas lainnya. Karena semua gas bercampur dalam semua perbandingan, maka setiap campuran gas adalah homogen dan ia merupakan larutan.

Ada sistem yang tidak dapat dikategorikan homogen maupun heterogen, senyawa tersebut dikenal sebagai koloid. Antara suspense kasr dan larutan sesungguhnya terdapat daerah perubahan dari heterogen ke homogen. Koloid terdapat dlam daerah antar tersebut. Biasanya definisi koloid didasarkan pada ukurannya. Bila partikel memiliki ukuran antara 10-7 dan 10-4 ( 10 Ao – 10.000 Ao), maka disperse dapat disebut koloid, suspense, koloidal, atau larutan koloidal.

Dua pengertian yang penting dalam larutan adalah solut (zat yang dilarutkan) dan solven (zat pelarut). Pengertian ini dapat dinyatakan bila senyawa dalam jumlah yang lebih besar maka disebut solven dan untuk senyawa yang berada dalam jumlah kecil disebut solut. Meskipun demikian pernyataan ini dapat dibalik bila ia lebih tepat.

Larutan cairan dapat dibuat dengan melarutkan gas, cairan, atau padatan dalam suatu cairan. Jika sebagian cairan  adalah air, maka larutan disebut larutan berair. Larutan padatan adalah padatan –padatan dalam satu komponen terdistribusi tak beraturan pada atom atau molekul dari komponen lainnya. (Sastrohamidjojo, 2005)

Material dapat diklarifikasikan menjadi dua kelompok murni da campuran. Namun dalam kenyataannya hal ini bukanlah hal yang sederhana. Pertama, sebagian besar material disekitar kitaadalah campuran multi komponen. Udara adalah contoh yang paling baik. Komponen utama udara adalah nitrogen dan oksigen. Jadi udara adalah campuran, bukan material murni.

Dalam beberapa kasus kita tidak dapat menggunakan material tanpa pemurnian, baik material itu yang berasal dari alam atau yang disintesis dilaboratorium. Pemisahan atau pemurnian dengan metode tertentu perlu dilakukan. Dalam proses pemurnian air, sejumlah karbon dioksida tertentu masih terlarut dalam air. Selain itu, sejumlah sangat kecil  ion  tenatrium mungkin berasal dari dinding alat destilasi. Diperlukan cara tertentu untuk menghilangkan ion ini.

Dasar Pemisahan Campuran

Zat atau materi dapat dipisahkan dari campurannya karena campuran tersebut memiliki perbedaan sifat. Itulah yang mendasari pemisahan campuran atau dasar pemisahan. Beberapa dasar pemisahan campuran antara lain sebagai berikut:

a)      Perbedaan ukuran partikel

Jika ukuran partikel suatu zat yang diinginkan berbeda dengan zat yang tidak diinginkan (zat pencampur), dapat dipisahkan dengan metode filtrasi   (penyaringan). Untuk keperluan ini kita harus mengunakan penyaring dengan ukuran yang sesuai. Partikel zat hasil akan melewati penyaringan dan disebut hasil penyaringan sedangkan zat pencampurnya akan terhalang dan disebut residu.

b)      Perbedaan titik didih

Untuk memisahkan campuran zat yang memiliki perbedaan titik didih, kita dapat melakukannya dengan menggunakan metode destilasi. Zat yang memiliki titik didih yang lebih tinggi akan terlebih dahulu menguap. Jika yang kita inginkan adalah zat yang memiliki titik didih yang lebih tinggi, maka langkah selanjutnya kita mengembunkan uap dari zt tersebut (pendinginan) dan mengalirkannya kewadah tertentu. Jika yang kita inginkan adalah zat yang memiliki titik didih lebih rendah, maka kita cukup memanaskan campuran tersebut saja. Sampai suhu mencapai titik didih zat yang akan dicari.

c)      Perbedaan  kelarutanu zat

Suatu zat yang selalu memiliki spesifikasi kelarutan yang berbeda, artinya suatu zat mungkin larut dalam pelarut A tapi tidak larut dalam pelarut B, atau sebaliknya. Secara umum pelarut dibagi menjad dua, yaitu pelarut polar (pelarut yang memiliki kutub) dan pelarut nonpolar (pelarrut organic) seperti alkohol, methanol, eter dan kloroform.dengan prinsip perbedaan kelarutan, kita dapat memisahkan campuran dari pelarut tersebut.

d)     Perbedaan pengendapan

Suatu zat memiliki kecepatan mengendap yang berbeda dalam larutan yang berbeda. Zat yang memiliki berat jenis lebih besar daripada pelarutnya akan mudah mengendap. Bila dalam suatu campuran mengandung satu atau beberapa zat dengan kecepatan pengendapan yang berbeda, maka pemisahan campuran tersebut dapat dilakukan dengan metode sedimentasi atau sentrifugsi (pemusingan). Jika dalam campuran terdapat lebih dari satu zat yang akan kita inginkan, maka digunakan metode presipitasi yang akan dikombinasikan dengan metode filtrasi.

e)      Difusi

Dua macam zat berwujud cair atau gas bila dicampur dapat berdifusi satu sama lain. Aliran ini dapat dipengaruhi oleh muatan listrik. Listrik yang diatur sedemikian rupa (baik besar tegangan nya maupun kuat arusnya) akan menarik partikel zat hasil kearah tertentu untuk memperoleh zat yang murni. Metode pemisahan campuran dengan menggunakan bantuan listrik disebut elektrodialisis. Selain itu, kita mengenal juga istilah elektroforesis, yaitu pemisahan zat yang berdasarkan banyaknya nukleotida (satuan penyusun DNA) dapat dilakukan dengan elektroforesis, menggunakan suatu media yang disebut gel agarosa.

f)       Adsorpsi

Adsorpsi merupakan penarikan suatu zat oleh zat lain sehingga menempel pada permukaan dari bahan pengadsorpsian. Penggunaan metode ini diterapkan pada pemurnian air dan kotoran renik atau organisme.

Metode Pemisahan Standar

Tidak ada cara unik untuk memisahkan campuran menjadi komponennya. Satu-satunya cara adalah dengan menggunakan perbedaan sifat kimia dan fisika masing-masing komponen titik kritisnya dapat menggunakan perbedaan sifat yang sangat kecil.

a)        Filtrasi

Biasanya filtrasi alami yang digunakan, misalnya sampel yang akan disaring dituang kecorong yang didasarnya ditaruh kertas saring. Fraksi cairan melewati kertas saring dan padatan tinggal diatas kertas saring. Bila sampel cairan terlalu kental, filtrasi dilakukan dengan penghisapan. Digunakan alat khusus untuk  mempercepat filtrasi dengan menvakumkan penampung filtrat yang digunakan. Filtrasi dengan penghisapan tidk cocok bila cairannya adalah pelarut organic mudh menguap. Dalam kasus ini, tekanan  perharus diberikan pada permukaan cairan atau larutan.

b)        Adsorpsi

Tidak mudah menyingkirkan partikel yang sedikit dengan filtrasi sebab partikel semacam ini akan cenderung menyumbat penyaringannya. Dalam kasus ini direkomendasikan penggunaan penyaringan yang secara selektif mengadsorpsi sejumlah kecil pengotor. Bantuan penyaring apapun akan bisa digunakan bila saringannya berpori, hidrofob atau solvofob dan memiliki kisi yang kaku. Celit, keramik diatom, dn tanah liat teraktivasi sering digunakan. Karbon teraktivasi memiliki luas permukaan yang besar dan dapat mengadsorpsi banyak senyawa organic dan sering digunakan untuk menyingkirkan zat yang berbau dari udara atau air. Silika gel dapat mengadsorpsi air dan digunakan meluas sebagai desikan.

c)        Rekristalisasi

Metode ini cukup sederhana, material padatan ini terlarut dalam pelarut yang cocok pada suhu tinggi (pada atau dekat dengan titik didih pelarutnya) untuk mendapatkan larutan jenuh atau dekt jenuh. Ketika larutan panas perlahan didinginkan, Kristal akan mengendap karna kelarutan padatan biasanya menurun bila suhu diturunkan. Diharapkan pengotor tidak akan mengkristal karena konsentrasinya dalam larutan tidak terlalu tinggi untuk mencapai januh.

Saran untuk membantu rekristalisasi :

­          Kelarutan material yang akan dimurnikan harus memiliki ketergantungan yang besar pada suhu.

­          Kristal tidak harus dari larutan jenuh dengan pendinginan karena mungkin terbentuk super jenuh.

­          Untuk mencegah reaksi kimia antara pelarut dan zat terlarut, penggunaan pelarut polar lebih disarankan. Namun, pelarut nonpolar cenderung merupakan larutan yang buruk untuk senyawa polar. Kita harus hati-hati bila menggunakan pelarut polar.

­          Pelarut dengan titik didih rendah  umumnya lebih diinginkan.  Namun, sekali lagi pelarut dengan titik didih lebih rendah biasanya nonpolar.  (Tekeuchi, 2006)

d)       Destilasi

Destilasi adalah metode pemisahan zat-zat cair dari campurannya berdasarkan perbedaan titik didih. Pada proses destilasi sederhana, suatu campuran dapat dipisahkan bila zat-zat penyusunnya mempunyai perbedaan titik didih yang cukup tinggi. Pada pemisahan campuran dari dua cairan yang menguap atau yang titik didihnya berdekatan lebih banyak persoalannya sehingga tidak dapat dilakukan dengan destilasi biasa. Suatu cara yang sering digunakan untuk memperoleh hasil yang lebih baik disebut destilasi bertingkat, yaitu proses dimana komponen-komponennya secara bertingkat diuapkan dan diembunkan. Dalam proses ini campuran dididihkan pada kisaran suhu tertentu pada tekanan uap yang dilepaskan dari dalam cairan tidak murni yang berasal dari satu komponen tetapi masih mengandung campuran kedua komponen dengan komposisi yang biasanya berbeda dengan komposisi cairan yang mendidih.  Bila sebagian cairan yang telah dididihkan uapnya diembunkan, maka campuran akan terbagi menjadi tilatdua bagian. Bagian pertama terdiri dari uap yang terembun disebut destilat, dan mengandung lebih banyak komponen yang nudah menguap disbanding cairan aslinya. Bagian kedua adalah cairan yang tertinggal disebut residu, yang susunannya lebih banyak komponen yang sukar menguap. Hal ini dapat diulangi lagi beberapa kali sampai akhirnya diperoleh salah satu komponen murni yang mudah menguap.

Pada pemisahan campuran yang membentuk larutan non ideal dapat menunjukan prilaku yang lebih rumit. Campuran tersebut tidak dapat dipisahkan secara menyeluruh kedalam komponen-komponennya, karena bila dididihkan campuran akan mendidih dengan konstanta campuran semacam ini disebut azeotrop, yaitu campuran yang mendidih pada suhu konstan dangan komposisi yang konstan.

e)        Ekstraksi

Ekstraksi mempunyai peranan yang penting dalam laboratorium dan teknik. Di dalam laboratorium ekstraksi pelarut digunakan untuk mengambil zat-zat terlarut dalam air dengan menggunakan pelarut organic yang tidak bercampur dengan fase air seperti : eter, kloroform, dan benzene. Ekstraksi pelarut juga digunakan untuk memekatkan suatu spesi yang dalam larutan air terlalu encer untuk dianalisa.

Dalam industri, umumnya ekstraksi pelarut digunakan dalam analisis untuk memurnikan zat-zat dari pengotor yang tidak diinginkan dalam hasil.

Berdasarkan bentuk campuran yang diekstraksi, ekstraksi dibedakan menjadi :

­          Ekstraksi padat-cair, zat yang diekstraksikan terdapat didalam campuran yang berbentuk padatan

­          Ekstraksi cair-cair, zat yang diekstraksikan terdapat didalam campuran yang berbentuk cair. Ekstraksi cair-cair sering juga disebut ekstraksi pelarut. Banyak dilakukan untuk memisahkan zat seperti iod atau logam-logam tertentu dalam larutan cair.

Menurut proses pelaksanaanya ekstraksi dibedakan menjadi :

­          Ekstraksi kontinyu. dalam ekstraksi ini, pelarut yang sama digunakan secara berulang-berulang sampai proses ekstraksi selesai.

­          Ekstraksi bertahap.  Dalam ekstraksi ini selalu digunakan pelarut yang baru sampai proses ekstraksi selesai. (Estein, 2005)

BAB 3

METODOLOGI PERCOBAAN

 

3.1 Alat dan Bahan

3.1.1 Alat

­       Sendok

­       Gelas kimia 100 ml

­       Corong kaca

­       Tabung reaksi

­       Corong pisah

­       Cawan penguap

­       Batang pengaduk

­       Hot plate

­       Cobek

3.1.2 Bahan

­       Garam dapur

­       Kapur tulis pasir

­       Naftalena

­       Minyak goring

­       Norit

­       Sirup

­       Kertas saring

3.2 Prosedur Percobaan

3.2.1 Dekantasi

­   Dimasukan 1 sendok pasir kedalam gelas kimia 100 ml

­   Ditambahkan aquades 50 ml

­   Diaduk dengan batang pengaduk

­   Didiamkan dan diamati hasilnya

­   Dibuang fase cairnya

3.2.2 Filtrasi

­   Dimasukan 1 sendok kapur tulis kedalam gelas kimia

­   Ditambahkan aquades 50 ml

­   Diaduk dengan batang pengaduk

­   Disiapkan corong kaca dan kertas saring

­   Dituang campuran air dan kapur tulis

­   Diamati hasilnya

3.2.3 Adsorpsi

­   Dimasukan 1 sendok norit, diletakkan diatas kertas saring pada corong kaca

­   Dituang sirup diatas norit pada kertas saring

­   Diamati norit yang berada diatas kertas saring tertahan dan sirup yang dituang masuk melalui pori-pori kertas saring

3.2.4 Kristalisasi

­   Dimasukan 1 sendok garam dapur kedalam gelas kimia

­   Ditambah aquades 10 ml

­   Diaduk hingga homogen

­   Dipanaskan hingga pelarutnya menguap

­   Diamati hasilnya

3.2.5    Ekstraksi

­   Dimasukan 25 ml aquads kedalam corong pisah

­   Ditambahkan 25 ml minyak goring

­   Dikocok

­   Didiamkan dan diamati hasilnya

­   Dibuang fase cairannya

3.2.6 Sublimasi

­   Dimasukan garam dan naftalena kedalam cawan penguap

­   Ditutup dengan kertas saring yang telah dibolongi

­   Diletakan corng kaca teralik yang telah disumbat lehernya

­   Dipanaskan diatas hot plate

­   Diamati hasilnya

BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1     Hasil Pengamatan

NO.

Perlakuan

Pengamatan

Dekantasi

-       Dimasukan 1 sendok pasir kedalam gelas kimia

-       Ditambahkan aquades 50 ml

-       Diaduk diamkan dan diamati

Dibuang fasa cairnyaWarna aquades menjadi keruh setelah diaduk dan setelah didiamkan terdapat endapan pasir didalamnya Filtrasi

-       Dimasukan 1 sendok kapur tulis kedalam gelas kimia

-       Ditambahkan aquades 50 ml

Setelah disaring air yang sebelumnya keruh menjadi jernih kembali seperti semula

Adsorpsi

-       Diletakan 1 sendok norit diatas kertas saring pada corong kaca

-       Dituang sirup diatas norit

-       Diamati

Setelah disaring warna sirup lebih muda Kristalisasi

-       Sendok garam dapur di masukkan dalam gelas kimia.

-       Ditambah aquades 10 ml

-       Diaduk hingga homogeny

-       Dipanaskan hingga pelarut menguap

­          Di amati

Garam yang terlarut mengkristal kembali Ekstraksi

-       Dimasukkan 15 ml dalam corong pisah

-       25 ml minyak goring

-       Di kocok

-       Didiankan dan diamati

-       Dibuang fasa cairnya

Terbentuk 2 fase polar      air

Non polar      minyak goreng Sublimasi

-       Dimasukkan garam dan naftalena dalam cawan penguap di tutup dengan kertas saring yang telah di bolongi.

-       Diletakakan corong kaca terbalik yang tersumbat lehernya

-       Dipanaskan di atas hotplate

-       Di amati

Naftalena menguap dan uapnya menempel di corong kaca, garam tidak menguap.

 

4.2     Pembahasan

Dekantasi  didasrkan pada zat padat yang tidak larut dalam zat cair. Apabila dicampur lama-kelamaan zat padat akan mengendap karena perbedaan massa jenis dan gaya gravitasi. Contohnya adalah campuran pasir dengan air.

Fitrasi didasarkan pada perbedaan ukuran partikel dengan ukuran pori-pori alat penyaring. Ukuran partikel yang lebih besar dari besarnya pori-pori kertas saring akan tertahan di alat penyaring. Contohnya penyaringan antara campuran kapur dan air.

Adsorpsi terjadi ketika suatu zat terikat kepada suatu padatan atau cairan (zat penyerap) dan akhirnya membentuk suatu lapisan tipis.

Kristalisasi didasarkan pada perbedaan kelarutan dari komponen campuran pada pelarut tertentu. Contohnya pemisahan garam. Sedangkan rekritalisasi adalah proses pemurnian yang merupakan pengulangan kembali dari proses kristalisasi.

Ekstraksi terbagi menjadi dua yaitu ekstraksi zat padt dan ekstraksi zat cair. Ekstrak padatsi zat ini didasarkan pada keadaan bahwa salah satu komponen campuran tersebut dapat larut kedalam pelarut. Ekstraksi zat cair didasrkan oleh satu komponen cairan dari campuransebut dapat larut kedalam pelarut.

Sublimasi didasarkan pada adanya partikel padatan dari  berucampuran tersebut yang dapat berubah dari fase yang padat menjadi gas. Sublimasi dapat digunakan untk memisahkan komponen yang dapat menyublim dari campurannya yang tidak dapat menyublim. Contohnya pemisahan naftalena dari campuran garam.

Dekantasi (pengendapan) adalah metode pemisahan cairan dari padatan yang tidak terlarut dengan cara menuang secara langsung.

Filtrasi (penyaringan) ialah pemisahan campuran berdasarkan perbedaan ukuran partikel.

Adsorpsi adalah suatu proses yang terjadi ketika suatu zat terikat kepada suatu padatan atau cairan (zat penyerap) yang akhirnya membentuk suatu lapisan tipis.

Kristalisasi adalah pemisahan campuran dengan cara menguapkan larutannya.

Ekstraksi adalah cara pemisahan suatu zat dari campuran dengan melarutkan zat itu pada pelarut yang sesuai. Sublimasi ialah pemisahan campuran pada zat  yang dapat menyublim.

Dalam percobaan pertama, campuran pasir dengan air dapat dipisahkan dengan cara dekantasi (pengendapan). Hasil dekantasi terlihat air keruh dan pasir yang mengendap. Hal ini membuktikan bahwa partikel pasir tidak dapat larut pada air dan partikel pasir mengendap terlebih dahulu. Karena ukuran partikel pasir lebih besar daripada massa jenis air. Dalam percobaan ini , pasir adalah suspensi kasar berupa koloid dan air merupakan dispersi koloid, sedangkan debu yang terkandung di dalam pasir merupakan koloid. Dua jenis campuran suspensi kasar dan disperse koloid bersifat heterogen sehingga dapat dipisahkan secara mekanis.

Dalam percobaan kedua, campuran kapur dengan air dapat dipisahkan dengan cara filtrasi karena ukuran partikel kapur lebih besar daripada pori-pori kertas saring, maka kapur akan tertahan pada kertas saring sementara air dapat melewatinya. Dalam hal ini, kapur disebut residu sedangkan air disebut filtrate.

Dalam percobaan ketiga, corong kaca yang telah dilapisi kertas saring, dan diletakan bubuk norit diatasnya, kemudian dituang sirup pada kertas sring tersebut. Sirup yang tadinya berwarna orange, setelah disaring berubah warna menjadi lebih muda. Dalam hal ini norit berkerja sebagai penyerap warna dari sirup.

Dalam percobaan keempat, campuran garam dan air merupakan larutan yang bersifat homogeny dan tidak bisa dipisah secara mekanis seperti campuran pasir dengan air dan kapur dengan air. Campuran garam dengan air merupakan larutan sejati jenuh, sehingga pemisahan dilakukan dengan cara kristalisasi. Cara ini digunakan karena titik didih air lebih kecilsehingga pada saat dipanaskan air akan menguap. Hal ini digunakan untuk mengurangi kadar air sehingga larutan lewat jenuh kemudian didinginkan dan garam akan mengkristal.

Dalam percobaan kelima, pemisahan air dan minyak dapat dilakukan dengan corong pisah. Air dan minyk dimasukan kedalam corong pisah kemudian dikocok dan didiamkan, sehingga terlihat minyak berada diatas dan air berada dibawah. Hal ini dikarenakan massa jenis minyak lebih kecil daripada massa jenis air. Dalam percobaan ini air bersifat polar dan minyak bersifat nonpolar. Sehingga air dan minyak tidak dapat bercampur.

Dalam percobaan keenam, pencampuran antara kapur barus dengan garam dapat dipisahkan dengan cara sublimasi. Kapur barus atau naftalena jika berbentuk cair dapat menguap dan jika dalam bentuk padat dapat menyublim. Dalam percobaan ini , garam dan naftelena dimasukkan kedalm cawan penguap yang ditutup dengan kertas saring yang telah dilubangi kecil-kecil dan diatasnya diletakan corong kaca terbalik yang telah disumbat lehernya, kemudian dipanaskan. Pada saat dipanaskan muncul gas dan seperti bintik-bintik yang menempel pada sisi corong. Pada sublimasi ini, naftalena menyublim terlebih dahulu dan garam mengkristal. Hal ini dipengaruhi titik didih.

Dalam percobaan ini garam dapur digunakan sebagi bahan untuk melakukan percobaan kristalisasi dan sublimasi. Garam dapur dipilih sebagai bahan untuk melakukan percobaan ini karena garam dapur dapat bercampur secara homogen dengan air.

Minyak goreng digunakan sebagi bahan untuk melakukan percobaan ekstraksi. Karena minyak goreng bersifat nonpolar dan tidak dapat bercampur dengan air.naftalena digunakan sebai bahan dalam percobaan sublimasi.

Naftalena merupakan zat padat yang dapat menyublim sehingga dipilih dalam percobaan ini. Norit digunakan sebagai bahan dalam percobaan adsorpsi karena dapat berlaku sebagai adsorben.

Sendok dalam percobaan pemsahan dan pemurnian berfungsi untuk memindahkan bahan yang ingin digunakan kedalam gelas kimia. Gelas kimia dalam percobaan pemisahan dan pemurnian berfungsi untuk menampung zat kimia, memanaskan zat kimia, dan mengukur volume larutan yang tidak memerlukan  tingkat ketelitian yang tinggi. Corong gelas dalam percobaan ini berfungsi sebagai alat penyaring dan memindahkan larutan ketempat yang lebih kecil. Tabung reaksi dalam percobaan ini berfungsi sebagai tempat untuk mereaksikan bahan kimia dan terbuat dari bahan porselen. Cawan penguap dalam perobaan ini berfungsi sebagai alat untuk menguapkan suatu zat atau bahan yang ada didalamnuya. Corong pisah dalam percobaan ini berfungsi sebagai sebuah alat yang digunakan untuk memisahkan cairan yang saling bercampur tapi tidak saling larut satu sama lain. Batang pengaduk dalam percobaan ini berfungsi sebagai alat pengaduk cairan dalam gelas kimia.

Proses pemisahan dan pemurnian banyak sekali diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, dalam pemurnian garam dapur. Air laut banyak mengandung mineral terutama NaCl. Petani dapur memishkan garam dapur dengan menjemur air laut pada sebuah bangunan yang datar dan lapang. Garam yang diperoleh kemudian diolah di industry untuk dicuci dan ditambah iodium.

Saat memeras kelapa yang telah diparut, juga telah terjadi proses pemisahan dan pemurnian secar sederhana. Dengan menggunakan metode penyaringan, ampas kelapa akan tertahan pada alat saring dan santannya lolos dari alat saring.

Dalam pengolahan air, air dibersihkan dari kekeruhan. Untuk mengendapkan kotoran dibubuhi tawas. Gumpalan yang terjadi pada proses koagulasi dipisahkan dengan penhyaringan menggunakan pasir, kerikil dan ijuk.

Pemisahan dan pemurniaan juga dapat digunakan dalam proses penyingkiran zat yang berbau dari udara atau air. Untuk menghilangkan rasa anyir pada air yang mengandung zat besi atau mangan dapat menggunakan kapur.

Dalam pengolahan minyak bumi, minyak mentah dipanaskan dalam suhu 370oc, kemudian uap yang dihasilkan dan diembunkan pada suhu yang sesuai, fraksi minyak bumi yang tidak terkondensasi terus naik kebagian atas sehingga keluar sebagai gas alam.

Minyak goreng dan naftalena memiliki unsur sebagai berikut :

Stuktur minyak goreng

H2c – O –  C – (Ch2 )7 – Ch = Ch – (Ch2)7 – Ch3

O

H C – O – C – (CH2)7 – CH = CH – CCH2)7 – CH3

O

H2C – O – C – (CH2)7 – CH = CH – (CH2)7 – CH3

Adsorpsi merupakan penarikan suatu zat oleh zat lain sehingga menempel pada permukaan dari bahan adsorpsi. Namun, jika penyerapan atau penarikan suatu zat oleh zat lain sampai ke bawah permukaan disebut absorpsi.

Campuran homogeny merupakan campuran yang tiap bagiannya mengandung jumlah zat terlarut sama besar atau campuran yang tidak dapat dibedakan zat pendispersi dan zat terdispersinya. Contohnya adalah, larutan gula, larutan garam, campuran CuSO4 dan air.

Campuran heterogen merupakan campuran yang dapat dibedakan antar zat pendispersi dan zat terdispersi atau campuran tersebut mengandung zat terlarut dengan jumlah yang tidak sama. Contohnya adalah, air kopi, campuran air dengan pasir, dan campuran air dengan tepug beras.

BAB 5

PENUTUP

 

5.1 Kesimpulan

-       Untuk mendapatkan zat murni dari suatu yang telah tercemar di lakukan proses pemisahan dan pemurniaan.

-       Setelah disaring menggunakan kertas saring yang dilapisi norit, warna sirup berubah menjadi  muda.

-       Setelah air dan pasir dipisah denagan menggunakan metode dekantasi terjadi endapan dan air menjadi keruh.

-       Campuran garam dan air yang dipisahkan dengan cara kristalisasi membuat terbentuknya Kristal garam.

5.2  Saran

Sebaiknya pasir yang digunakan dalam proses dekantasi adalah pasir yang bersih, sehingga penghambatan tidak terganggu adanya zat lain selain pasir.

BAB 1

PENDAHULUAN

 

1.1     Latar Belakang

 

Pembuatan larutan adalah suatu cara mempelajari cara pembuatan larutan dari bahan cair atau padat dengan konsentrasi tertentu. Untuk menyatakan kepekaaan atau konsentrasi suatu larutan dapat di lakukan berbagai cara tergantung pada tujuan penggunaannya. Adapun satuan yang digunakan untuk menentukan kepekaan larutan adalah molaritas. Molaritas, persen berat, persen volume, atau sebagainya

Dalam dunia kimia, larutan adalah campuran homogen yang terdiri dari dua atau lebih zat. Zat yang jumlahnya sedikit didalam larutan disebut zat terkarut atau solut, sedangkan jumlahnya yang lebih banyak dari pada zat-zat lain dalam larutan disebut pelarut atau solven. Proses pencampuran zat terlarut dan pelarut membentuk larutan disebut pelarut atau solvasi. Contoh larutan yang umum sering di jumpai adalah padatan yang di lakukan dalam cairan. Seperti garam atau gula yang dilarutkan dalam air. Gas dapat pula dilakukan dalm cairan. Setelah itu, airan dapat pula larut dalam cairan lain,dan gas larut dalam gas lain. Terdapat pula larutan padat, misalnya aloy dan mieral tertentu.

Dalam pembutan larutan, dapat diketahui reaksi reaksi apa saja yang terjadi jika zat terlarut dan zat pelarut saling bercampur membentuk larutan. Reaksi-reaksi yang muncul itu tidak hanya terjadi dalam labotarium namun juga bisa terjadi dialam kita. Sehingga percobaan ini juga sangat erat kaitannya dengan keterampilan dasar dalam bekerja di labotarium kimia.

1.2  Tujuan

-     Mempelajari cara membuat larutan NaCl dan HCL dengan konsentrasi tertentu.

-     Mengetahui reaksi eksotern dan endoteren

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

 

Campuran campuran yang homogen disebut larutan yang memiliki komposisi merata atau serba sama diseluruh bagian volumnya. Suatu larutan mengandung zat terlrut atau lebih dari suatu pelarut. Zat terlarut merupakan komponen yang jumlahnya sedikit, sedangkan pelarut adalah komponen yang terdapat pada jumlah yang banyak.

Suatu larutan dengan jumlah maksimum zat terlarut zat terlarut yang dalam larutan lebih banyak daripada zat terlarut yang seharusnya dapat melarutkan pada temperatur tersebut. Larutan yang demikian disebut larutan lewat jenuh. Banyaknya zat terlarut yang dapat menghasilkan lautan jenuh, dalam jumlah tertentu pelarut pada temperatur konstan disebut kelarutan. Kelarutan suatu zat bergantung pada sifat zat itu. Molekul pelarut, temperature dan tekanan. Meskipun larutan dapat mengandung banyak komponen, tetapi pada kesempatan ini hanya dibahas larutan yang mengandung dua komponen yaitu larutan biner. Komponen dari larutan biner yaitu zat telarut dan zat pelarut.

  1. Konsentrasi larutan

Konsentrasi didefenisikan sebagai jumlah zat terlarut dalam setiap satuan larutan atau pelarut. Pada umumnya konsentrasi dinyatakan dalam satuan fisik dan satuan kimia. Cara menyatakan konsentrasi dalam satuan fisik yaitu, persen berat (%.), persen berat volume berat (%,%), persen volume (%.), persen berat volume (%,), gram zat terlarut dalam satu liter larutan, milligram zat terlarut dalm satuan milliliter larutan, parts per million  (ppm), part per billion (ppb).

Cara menyatakan konsentrasi dalam satuan kimia yaitu, kemolaran (M), kenormalan (n), keformalan (m), fraksi mol. Di bidang kedokteran dan ilmu-ilmu biologi biasanya digunakan satuan konsentrasi dalam persen berat volume (%,), persen milligram, equivalen (Eq), miliekivalen (m Eq) dan  keosmolaran.

-       Persen berat (%, w/w)

%

-       Persen volume (% ,)

%

-       Perssen berat volume (% )

Persen ini biasanya digunakan larutan dalam air yang sangat encer dari zat padat

%

-       Part per million dan part per billion (PPB)

Komsentrasi inidigunakan jika larutan sangat encer

1 PPM =

1 PPB =

-       Fraksi mol (x)

-       Fraksi mol zat terlarut =

-       Fraksi mol pelarut =

Kemolaran (F)

F =

-          Kemolaran (M)

Kemolaran tidak bergantung pada temperatur dan digunakan dalam bidang kimia fisika teristimewa dalam sifat koligatif

M =

­          Kemolalan (m)

Kemolalan tidak bergantung pada temperatur dan digunakan dalam bidang kimia fisika teristimewa dalam sifat koligatif

m =

-          Kenormalan (N)

Cara menyatakan konsentasi dengan kenormalan biasanya digunakan dalam bidang analisis volumetri. Setelah memperoleh harga konsentrasi dalam kemolaran, masih harus menghitung konsentrasi lainnya.

kenormalan =

-          Persen miligram (% mg)

(%mg) =

-          Keosmolar

Para ahli dibidang biologi dan kedokteran mengguanakan keosmolaran untuk menyatakan partikel yang aktif secara osmotik

  1. Pelarutan

pada proses pelarutan, tarikan antar partikel komponen murni terpecah dan tergantikan dengan tarikan antar pelarut dengan zat terlarut. Terutama jika pelarut dan zat terlarut samaa- sama polar, akan terbentuk suatu struktur suatu zat pelarut mengelilingi zat terlarut, hal ini memungkinkan interaksi antara zat terlarut dan pelarut tetap stabil.

Titik tercapainya keadaan jenuh larutan sangat dipengaruhi oloh berbagai faktor lingkungan, seperti suhu tekanan dan kontaminasi secara umum kelarutan suatu zat sebanding terhadap suhu. Hal ini terutama berlaku pada zat padat, walupun ada pengecualian. Kelarutan zat cair dalam zat lainnya secara umum kurang peka terhasap suhu, dari pada kelarutan padatan atau gas dalam zat cair. Kelarutan gas dalam air  umumnya berbanding terbalik terhadap suhu.

  1.  Larutan ideal

Bila reaksi antar molekul komponen komponen larutan sama besar dengan interaksi antar molekul komponen komponen tersebut pada keadaan murni, terbentuklah suatu idealisasi yang disebut larutan ideal. Larutan ideal mematuhi hukum Raolt, yaituh bahwa tekanan uap pelarut (cair) berbanding lurus dengan fraksi mol pelaraut dalam larutan. Larutan yang benar – benar ideal tidak terdapat dalam, namun beberapa larutan memenuhui kukum Raolt sampai batas batas tertentu. Contoh larutan di yang dianggap ideal adalah campuran benzena dan toulena. Ciri lain larutan ideal adalah bahwa volumenya merupakan penjumlah tepat volume komponen – kompone penyusunnya. Pada larutan non ideal, penjumlahnya teapat volume zat terlarut murni dan pelarut murni tidaklah sama dengan volume larutan. (S.S achmadi, 2001)

  1. Larutan non ideal

Larutan yang tidak memenuhi atau menyimpan dari hukum Raolt disebut larutan non ideal terjadinya penyimpangan (deviasi) di sebabkan perbedaan gaya  tarik antara molekul sejenis dan molekul tidak sejenis dalam larutan.

larutan non ideal di bedakn menjadi 2 yaitu:

-  Larutan non ideal deviasi positif

Larutan ini terjadi di sebabkan gaya tarik antara molekul yang berbedah lebih kecil dari pada  gaya tarik antara molekul yang sama. Dalam larutan molekul dari tiap zat terikat lebih lemah, sehingga lebih mudah menguap dari pada keadaan murninya. Hal ini membuat pembentukan larutannya menyerap panas (endoterm).

-     Larutan non ideal deviasi negatif

Larutan ini terjadi bila gaya tertarik antara molekul yang berbeda lebih besar daripada gaya tarik antar molekul yang sama. Setiap zat dalam larutan terikat lebih kuat. Sehingga sulit menguap daripada keadaan murninya. Hasilnya tekanan uap dari larutanya lebih kecil dari huku Raolt dan terjadi deviasi negatif. Akibatnya proses pembentukan larutannya melepas panas (eksotern). ( dan terjadi deviasi negatif. Akibatnya proses pembentukan larutannya melepas panas (eksotern). (Yazid Ekstien,2005).

Karena larutan adalah campuran molekul( atom atau ion dalam beberapa hal), biasanya molekul molekul pelarut agak berjahuan dalam larutan dibanding dalam larutan murni. Jadi pembentukan larutan dapat dibuat sebagai proses hipotesis sebagai berikut:

Pertama jarak antara moleku molekul meningkat menjadi jarak rata – rata yang ditampilkan dalam larutan. Tahap ini memerlukan penyerapan energi untuk melampaui gaya – gaya intermolekul kohesi. Tahap ini disertai dengan peningkatan enatalpi, reaksinya adalah endoterm. Dalam tahap endoterm kedua, pemisahan yang sama terhadap molekul – molekul terlarut terjadi. Tahap ketiga dan terakhir adalah membiarkan molekul – molekul pelarut dan terlarut untuk bercampur. Gaya tarik intermolekul diantara molekul tidak sejenis menyebabkan pelepasan energi, enalpi menur dalam tahap ini.

Larutan yang memgguanakan air sebagai pelarut dinamakan larutan dalam air atau aquades. Larutan yang mengandung zat terlarut dalam jumlah yang  banyak dinamakan larutan pekat. Jika zat jumlah zat terlarut sedikit, larutan dinamakan larutan encer. Larutan istilah yang biasanya mengandung arti pelarut cair dengan cairan, padatan atau gas sebagai zat terlarut.

Larutan dapat pul– molekul gas terpisah jauh, molekul – molekul dalam campuran gas berbaur secara acak, semua campuran gas adalah larutan dalam larutan padat, pelarutnya adalah zat padat. Kemampuan membentuk larutan padat sering terdapat pada logam, dan larutan ini di namakan larutan padatan subtitusional, yang ukuran atom pelarut dan terlarutya kira – kira sama.

  1. Sifat – sifat koligatif

Terdapat empat sifat yang berhubungan dengan larutan encer, atau kira – kira pada larutan yang lebih pekat, yang tergantung pada jumlah partikel terlarut yang ada. Kegunaan praktisi sifat – sifat koligatif banyak dan beragam. Penelitian sifat – sifat  koligatif juga memaikan peranan penting dalam metode penempatan bobot molekul dan pengembangan teori larutann empat sifat koligatif antara lain:

-            Penurunan tekanan  uap

Pada tahun 1880 – an kimia prancis. F.M Raoult mendapati bahwa melarutan suatu zat terlarut mempunyai efek penurunan tekanan uap dari pelarut. Banyaknya penurunan tekanan uap (∆p) terbukti sama dengan hasil kali fraksi mol terlarut (Xb) dan tekanan uap pelarut murni (Pao ) yaitu  ∆p=Xb. Pa

-               Peningkatan titk didih danpermukaan titik bekuh.

Titik bekuh adalah suatu pada potongan garis tekanan tetap pada 1 atm dengan kurva peleburan, sedangkan titik didih adalah suhu pada potongan garis tekanan tetap pada 1 atm dengan kurva penguapan. Peenurunan titik beku dan peningkatan titik didih, sama seperti penurunan tekanan uap sebanding dengan fraksi molnya.secara historis, penurunan titik bekuh telah digunakan untuk menetapkan bobot molekul. Namun ada keterbatasan metode ini yang harus dipahami. Ingat bahwa titik didih cairan tergantung pasa tekanan atmosfer.

-               Tekanan Osmotik

Tekanan osmotik adalah tekanan yang dapat menghentikan aliran molekul dari pelarut murni kedalam larutan melalui selaput semi permabel. Tekanan osmotik termaksud dalam sisfat – siafat koligatif karena besarnya hanya bergantung pada jumlah partikel zat terlarut par satuan volume larutan. Tekanan osmotik tidak tergantung pada jenis zat terlarut.

Tekanan osmotik merupakan metode sangat penting dalam penentuan bobot molekul, terutama untuk mengukur larutan yang sangat encer atau zat terlarut dengan bobot molekul sangat tinggi. (ralph. H . Petrucci, 187)

BAB 3

MEDOLOGI PERCOBAAAN

 

 

3.1     Alat Dan Bahan

3.2.1     Alat – Alat

-    Neraca analitik

-   Labutakar 100ml

-   Gelas kimia 100 ml

-   Pipet ukur 10 ml

-   Pipet

-   Batang pengaduk

-   Corong kaca

-   Spatula

3.2.2    Bahan – bahan

-   HCL

-   NaCl

-   Aquades.

-

3.2     Prosedur percobaan

3.2.1    Penimbangan.

-   Di timbang 10 gram NaCl.

-   Dilarukan dalam aquades dalam labu takar 100 ml.

-   Di homogenkan.

3.2.2    Pengenceran.

-   Diambil jumlah volume HCL seseuai kebutuhan (25 ml).

-        Di masukkan dalam labu takar sampai tanda tera 100 ml.

-        Di homogenkan.

BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

4.1  Hasil pengamatan

No Perlakuan pengamatan
Penimbangan

-    Ditimbang 10 gram NaCl

-    Dilarutkan dalam aquades dalam labu takar 100 ml

-    DihomogenkanWarna bening, setelah di homogenkan warna teteap bening tetapi lautan terasa dingin Pegenceran

-    Diambil jumlah volum HCL 25 ml

-    Dimasukkan dalam labutakar

-    Ditambahkan aquades sampai volum tera 100 mlWarna bening setelah di homogenkan warna tetap bening dan terdapat gelembung – gelembung

4.2   Reaksi

-  Penimbangan

Na Cl + H2O                     NaCl+  + Cl-

-  Pengenceran

HCL + H2O                        H+ + CL-

 

4.3   Perhitungan

4.3.1         Penimbangan

Dik: konsentrasi NaCl = 10%

V larutan = 100 ml

%  =

Gram zat terlarut =

= 10 gram NaCl

4.3.2   Pengenceran

Pembuatan …. Larutan HCL 1 molar dari larutan HCL 0,25 molar dalam labu takar 100 ml .

Dik : M1= 1 molar

M2= 0,25 molar

V1 = 100 ml

V2 =  100 ml

M1 . V1 = M2 . V2

V1 =

V1 = 25 ml

4.4  Pembahasan

4.4.1   Pembuatan larutan HCL

Pada proses pembuatan larutan HCL dengan dengan menambahkan aquades ke dalam labutakar dan di homogenkan, sampai pada titik tera, maka terjadi reaksi ditandai dengan larutan menggelembungnya larutan terswbut dan setelah di homogenkan larutan tetap bening reaksi kimia terjadi.

HCL(aq)                    H+ CL-(aq)

4.4.2   Penimbangan larutan NaCl

Pada proses pembuatan NaCl, NaCl ditimbang menggunakan neraca analitik. Dan menambahkan aquades ke dalam labu takar, dan di homogenkan sampai pada titik tera, maka terjadi reaksi di tandai dengan warna tetap bening dan terdapat gelembung – gelembung, dan di tandai larutan menjadi dingin.

Pembuatan larutan itu sendiri terjadi yang dimana eksoteren dan endoterm dan kedua reaksi itu memiliki pengertian yaitu:

-         Eksoterem

Eksoterem proses terjadi reaksi yang terhadi pada sistem ke lingkungan atau proses reakasi pelepasan panas

-  Endoterm

Endoterm adalah proses reaksi yang terjadi pada lingkungan ke sistem atau reaksi penyerapan panas.

Campuran merupakan kumpulan berbagai macam larutan yang bergabumg dalam satu larutan dengan konsentrasi tertentu. Dan campuran tersebut terdiri dari larutan disperensi koloid, dab , suspensi. Maka ketiga campuran tersebut adalah:

-   Larutan

Larutan yaitu campuran yang bersifat homogen, misalnya larutan gula, larutan cuka, dan larutan garam.

-  Disperensi koloid

Disperensi koloid adalah campuran yang bersifat homogen dan heterogen misalnya kabut, susu, asap, dan lain – lain.

-  Suspensi

Suspensi adalah campuran yang bersifat heterogen, misalya campuran air dan sabun, air teh, air kopi.

4.4.3   Macam macam konsensentrasi

Konsentrasi dapat dinyatakan dengan beberapa cara yaitu:

-  Persen volume

Persen volum menyatakan jumlah zat terlarut dalam 100 liter larutan misalnya, alkohol 76% berarti dalam 100 liter alkohol terdapat 76 liter lakohol murni.

-  Persen massa

Persen massa menyatakan jumlah gram zat terlarut dalam 100 gram larutan contohnya sirup merupakan larutan gula 80% artinya dalam 100 gram setiap terdapat gula.

-  Molaritas

Molaritas merupakan atau menyatakan jumlah mol zat terlarut dalam 1 liter larutan.

-  Molalitaas

Molalitas menyatakan jumlah mol zat terlarut perkilogram pelarut terkandung dalam satuan larutan molaritas (m) dan tidak dapat dihitung dengan molar (M) kesuali rapatan larutan tersebut diketahui.

-  Normalitas

Normalitas suatu larutan adalah jumlah mol ekuvalen zat terlarut yang terkandung dalam 1 liter larutan. Batas ekuvalen adalah fraksi bobot molekul yang berkenan dengan satu satuan tertentu.

4.4.4   Pecobaan

Metode percobaan larutan yaitu diperlakuan tentang pemurniaan dan pengenceran untuk percoiti sendiri mudah untuk didefenisikan adalah dengan menambahkan komponen kedalam sempel dan percobaan untuk mengamati perubahan sebagai respon di dalam.

Pada percobaan larutan NaCl suatu larutan yang biasa di kenal dengan garam ternyata dapat terlarut dengan aquades, dan larutan tersebut tanpak sama dengan larutan sebelumnya. Namun larutan NaCl pada percobaan tersebut tanpak gelembung – gelembung yang menunujukkan bahwa larutan aquades dan NaCl sudah bergabung atau bercampur.

Pada percobaan pengenceran bahwa yang digunakan adalah HCL, akan tetapi HCL tersebut mempunyai sifat yang sama dengan larutan NaCl, yaitu larutan tersebut dapat bereaksi dengan  aquades  yaitu munculnya gelembung – gelenbung dan suhu pada larutan tersebut menjadi berubah.

-   Fungsi perlakuan dan fungsi reagen

Pada fungsi perlakuan percobaan dalam percobaan yaitu HCL. Pada percobaan HCL untuk perlakuannya yaitu HCL mengalami perubahan suhu dan juga reaksi, yang dimana reaksinya tersebut munculnya gelembung – gelembung kecil pada larutan dan berubah suhu suatu larutan manejadi dingin. Dan NaCl pada percobaan larutan NaCl untuk perlakuannya yaitu mengalami perubahan shu dan reaksi dimana reaksi NaCl munculnya gelembung – gelembung kecil dan perubahah suhu yang biasa menjadi dingin. Hal tersebut merupak reaksi yang terjadi karena adanya dua campuran yang berbeda bergabung menjadi satu.

-             Fungsi reagen

Fungsi reagen dalam percobaan yaitu perlakuan salam percobaan dimulai dari penimbangan untuk menentukan jumlah berat larutan yang diperlukan dalam suatu percobaan.

HCL pada percobaan larutan yang menggunakan HCL yaitu larutan di lakukan suatu pengukuran dengan cara melakukan pengukuran itu dengan gelas kimia. Ternyata dalam pengukuran tersebut belum dapat dipastikan kebenarannya dengan hanya memperkiraan. Tetapi dilakukan pengukuran denga neraca. Neraca analitik tersebut dapat mengukur berapa banyak larutan dipergunakan secara tepat.

NaCl pada percobaan penimbangan NaCl pada percobaan tersebut penimbangan menggunakan neraca analitik, dan ternyata dalam pengukuran tersebut digunakan lagi almunium foild untuk memberi wadah pada suatu larutan, dan ditimbang lagi. dalam percobaan tersebut NaCl ,mengalami reaksi dengan Aquades yaitu munculnya gelembung – gelembung kecil dan perubahan suhu pada campuran.

4.5.4   Faktor kesalahan

Dalam percobaan pembuatan larutan, faktor kesalahan dalam pembuatan larutan NaCl yaitu terjadinya kesalahan atau kurang telitian dalam pengukuran menggunakan neraca analitik. Tetapi pengukuran tersebut terdapat lagi kendala atau masala yaitu kurang persediaan botool untuk menyimpan larutan, dan kurang bersihnya keadaan botol saat dipergunakan untuk percobaan. Namun kesalahan tersebut terjadi karena kurangnya kedisiplinan dalam bekerja.

Namun kesalahan terjadi juga pada percobaan pengenceran yaitu pembuatan larutan HCL yang telah dibuang dan larutan tersebut tidak disimpan dalam botol yang telah disediakan. Kendala tersebut akibat kurangnya ketelitian dalamperlakuan percobaan. Dan kurang perhatian dalam pengamatan yang dianjurkan dalam materi sistem.

BAB 5

PENUTUP

 

5.1     Kesimpulan

-  Pembuatan larutan dari bahan zat padat dan bahan zat cair, dapat dilakukan dengan secara langsung dengan perlakuan yang secara langsung dengan pelarutnya yang sesuai.

-  Reaksi eksoterm terjadi dalam paembuatan larutan HCL reaksi endoterm terjadi dalam pembuatan larutan NaCl.

-  Larutan HCL dan NaCL dapat dibuat dengan cara melarutkan denga cara melarutkan secara langsung dengan pelarutnya yang sesuai.

5.2  Saran

Sebaiknya percobaan ini dilakukan dengan senyawa yang lebih, tidak hanya dengan menggunakan HCL dan NaCl. Agar hasilnya yang bisa diamati lebih beragam

BAB 1

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

Kromatografi merupakan suatu metode pemisahan yang dewasa ini telah banyak digunakan dibandingkan metode lain seperti destilisasi, Kristalisasi, pengendapan, ekstraksi dan lain-lain mempunyai keuntungan dalam pelaksanaan yang telah lebih sederhana. Penggunaan waktu yang singkat terutama, mempunyai kepekaan yang tinggi. Serta mempunyai kemampuan memisahkan yang tinggi. Metode ini dapat digunakan jika dengan metode lain tidak dapat digunakan misalnya karena jumlah cuplikan sangat sedikit atau campurannya kompleks.

Istilah kromatografi mula-mula ditemukan oleh molekul Tewett (1903), Serang ahli Botani, Rusia. Ia menggunakan kromatografi untuk memisahkan klorofil dan pigmen-pigmen lain dari ekstrak tanaman dengan cara ini. Nama kromatografi diambil dari bahasa Yunani yaitu (Choromos = penulisan) dan (Graver = Warna). Kromatografi berarti tulisan dengan warna. Saat ini telah dikenal berbagai macam kromatografi. Namun istilah kromatografi yang sebenarnya sudah tidak tepat lagi. Karena dengan kromatografi juga dapat dipisahkan senyawa-senyawa yang tidak berwarna seperti gas.

Secara umum dapat dikatakan bahwa kromatografi adalah suatu proses migrasi diferensial dinamis dalam sistem di mana komponen-komponen cuplikan dikatakan secara selektif oleh fase diam.

Prinsip kromatografi adalah cara pemisahan pemukiman yang didasarkan atas perbedaan distribusi dan komponen-komponen campuran tersebut di antara dua fase yaitu fase diam dan fase bergerak. Untuk mengetahui penerapannya dari praktikum kromatografi  yang penerapannya sangat banyak di temukan dalam kehidupan sehari-hari.

1.2  Tujuan

-      Untuk mengetahui sifat sampel ketika/saat diuji dengan pelarut.

-      Mengamati sampel yang saat diuji dengan alkohol.

-      Mengamati sampel yang diuji dengan air.

-      Mengamati sampel yang diuji dengan N-Heksana

BAB 2

TINJAUAN PUSATAKA

Kromatografi dapat digolongkan berdasarkan pada jenis fase-fase yang digunakan dalam kromatografi. Fase gerak dapat berupa gas atau cair. Dan fase diam dapat berupa zat padat atau zat cair. Maka berdasarkan fase bergerak, fase diam terdapat empat macam sistem kromatografi. Yaitu, kromatografi gas cair, kromatografi gas padat, kromatografi cair – padat, dan kromatografi cair-cair.

Kromatografi juga dapat didasarkan atas prinsipnya, misalnya kromatografi partisi (Partikel Chromotography) dan kromatografi serapan (Adsorbtion Chromotography). Sedangkan menurut teknis kerja yang digunakan, misalnya kromatografi kolam, kromatografi lapis – tipis (KLT), dan kromatografi kertas juga kromatografi gas. Selain itu ada juga yang digabung, misalnya partisi kromatografi partisi gas – cair, kromatografi cair – cair, kromatografi cair – padat, dan lain-lain. Juga dikenal kromatografi penukar ion dan kromatografi altrasi gel yang prinsipnya berbeda dari prinsip kromatografi yang telah disebutkan sebelumnya.

Dalam kromatografi hubungan suatu molekul komponen sampel yang tertahan (terabsorpsi) atau terdistribusi di antara fase diam dan fase gerak dapat dilakukan dengan berbagai istilah. Istilah-istilah yang sering digunakan dalam kromatografi dinyatakan sebagai berikut :

  1. Kesetimbangan Distribusi.

Kesetimbangan yang terjadi pada kromatografi bersifat dinamis. Molekul sampel atau zat terlarut berada bolak-balik di antaranya fase diam dan fase bergerak sehingga konsumsi rata-ratanya mengikuti hukum distribusi.

Keterangan :

Kd = Koefesiensi Distribusi atau partisi

Cs = Konsentrasi zat terlarut dalam persediaan

Cm = Konsentrasi zat dalam fase bergerak

Persamaan di atas memperlihatkan bahwa jika harga koefesiensi distribusi (Kd) besar berarti jumlah molekul yang berada dalam fase diam lebih banyak dalam fase bergerak dan akan tinggal lebih lama dalam fase diam.

  1. Faktor Retardasi

Faktor Retardasi (Rf), merupakan parameter kromatografi kromotogon kertas dan kromatografi lapis tipis. Harga Rf merupakan ukuran kecepatan migrasi suatu komponen pada kromatografi dan pada kondisi tetap merupakan peranan karakteristik dan produksibel. Rf didefinisikan sebagai perbandingan jarak yang ditempuh komponen terhadap jarak yang ditempuh pelarut. (Fase bergerak).

Hubungan ini berlaku jika Kd dan penampang lintang tidak tetap sepanjang zat terlarut.

  1. Fraksi Waktu

Fraksi waktu (R) tunggal dalam molekul dalam fase bergerak dinyatakan sebagai perbandingan molekul dalam fase bergerak terhadap jumlah metal molekul.

=

K disebut faktor Kapasitas atau Kapasitas kolom yang menyatakan perbandingan jumlah molekul dalam fase diam dan fase bergerak.

  1. Kecepatan

Bila fraksi waktu (R) dikalikan dengan kecepatan alir fase bergerak , maka kecepatan alir molekul, diberikan :

Kecepatan :  ()

Persamaan ini menunjukkan bahwa terjadinya perbedaan kecepatan bergerak di antara komponen-komponen dalam campuran disebabkan oleh perbedaan koefesiensi distribusinya. Jika perbedaan Kd besar. Masing-masing komponen  akan terpisah secara sempurna.

  1. Waktu Potensi.

Pada kromatografi gas dan semua percobaan kromatografi kalor hasil pemisah diberikan dalam harga waktu. Waktu retensi (Rf) adalah waktu yang dikatakan oleh molekul komponen untuk melintasi suatu kolom yang panjangnya L.

Tr =  =  = (1+k) = tm (1+k)

  1. Volume Retensi

Volume retensi merupakan besaran pokok yang diukur dalam kromatografi gas. Volume retensi adalah volume gas pembawa yang diperlukan untuk menggerakkan pita komponen pada keseluruhan panjang, suatu kolom.

Jika kecepatan fase bergerak (fc) diukur dalam suatu per satuan luas (fc = Vm/tm) adalah tetap, maka volume retensi (Vr) diberikan :

Vr  = tp.fc

= tm.(1+k) () = Vm (1+k)

Atau Vr = Vm + Kd.Vs

  1. Retensi Relatif

Pengukuran tr dan Vr dipengaruhi oleh bentuk kolom dan pengoperasiannya, sehingga tidak karakteristik untuk suatu komponen. Agar pengaruh tersebut dapat dilakukan perbandingan waktu retensi komponen dengan senyawa yang sudah diketahui dengan senyawa yang telah diakui. Pada kondisi pengaturan yang sama.

Retensi Relatif (a) = =  =

Tm adalah yaitu retensi fase bergerak atau komponen yang insert seperti udara yang tidak ditahan sewaktu melintasi kolom. Tanda (*) berarti untuk senyawa pembanding (Standar) (Khopkar, 2003)

Pada kromatografi kolom ialah kromatografi komponen di dalam satu kolom sebagai alat untuk memisahkan komponen-komponen dalam campuran. Alat tersebut berupa pipa gelas yang dilengkapi suatu keran di bagian bawah kolom untuk mengendalikan aliran zat cair. Ukuran kolom tergantung dari banyaknya zat yang akan dipisahkan. Secara umum perbandingan panjang dan diameter kolom sekitar 8 : 1. Sedangkan jumlah penyerapnya adalah 25-23 kali berat bahan yang dipisahkan. Untuk menahan penyerap (Adsorbsi) di dalam kolom dapat digunakan gelas 1000l atau kapas adsorbsinya digunakan adsorbsen anorganik seperti alumunium, bauksit, magnesium, Sulfat, silikon gel, dan tanah diatome. Sedangkan adsorbsen anorganik seperti arang gula, karbon paling sering digunakan oleh ilmuwan.

Pemisahan kolom adsorbsi didasarkan pada adsorbsi komponen campuran asimilasi berbeda-beda terhadap permukaan fase diam. Pada kromatografi adsorbsi, besarnya koefesiensi distribusi sama dengan konsentrasi zat terlarut pada fase konsentrasi pada fase larutan. Ketergantungan jumlah zat terlarut yang teradsorbsi terhadap konsentrasi zat terlarut dalam larutan dengan isoterm adsorbsi langsung.

A =

A       = Isoterm adsorbsi dalam g/cm2 atau dalam g (atau mol) g adsorbsi

C       = Konsentrasi larutan

K1 dan K2 merupakan suatu terapan yang pada suhu tertentu tergantung pada sifat jenis adsorb dan sifat zat-zat yang diadsorbsi (Marra, 2004).

Teknik pemisahan kromatografi kolom ialah sejumlah cuplikan yang dilarutkan dalam sedikit pelarut. Dituangkan melalui sebelah atas kolam dan dibiarkan mengalir ke dalam Adsorben. Komponen-komponen dalam campuran diadsorbsi dan larutan sesuatu atau secara kuantitatif oleh bahan penyerap berupa pita sempit pada permukaan atas kolom. Dengan penambahan pelarut (eksen) secara terus menerus, masing-masing komponen akan bergerak turun melalui kolom dan pada bagian atas kolom akan terjadi kesetimbangan baru antara bahan penyerap, komponen dengan lainnya bergerak ke bagian bawah kolom dengan waktu dan kecepatan berbeda-beda sehingga terjadi pemisahan.

Pembentukan zona pada kromatografi kolom, haruslah sedemikian rupa sehingga bagian suatu zat dari zat yang sama meninggalkan fase diam pada berbagai waktu yang berbeda. Waktu ini mengikuti statistik sesuai dengan hukum Gouss. Pertama-tama abaikan cuplikan yang akan dipisahkan tergantung konsentrasinya dan afinitasnya akan diabsorpsikan secara bolak-balik (Reversibel) dalam lapisan adsorbsi bagian atas. Dengan penambahan fase yang bergerak ke bagian yang kurang kuat terikat seluruhnya atau bertahap akan larut kembali dari permukaan adsorbsi. Akan terjadi kesetimbangan antara bagian zat yang diadsorbsi dan bagian yang terlarut.

Hasil pemisahan di antaranya dipengaruhi oleh pemilihan terhadap bahwa fase yang digunakan. Fase diam (adsorbsi) harus berukuran partikel seragam, bersifat inert terhadap zat uji dan cukup aktif. Sehingga memungkinkan perambatan zat uji. Adanya zat pengukur dapat menyebabkan adsorbsi tidak reversibel atau talling pada senyawa yang akan dipisahkan. Pemisahan yang lebih baik akan diperoleh dengan mengolah terlebih dahulu adorben dengan suatu senyawa yang dapat teradsorbsi kuat sebagai dasar digunakan adorben yang polaritasnya dengan zat uji.

Teknik pemisahan kromatografi kolam partisi sangat mirip dengan kromatografi kolom adsorbsi. Perbedaan utamanya terletak pada sifat dari penyerap yang digunakan. Pada kromatografi kolom partisi penyerapannya berupa muatan padat berpori seperti hieselguler. Selulosa atau silika gel yang permukaannya dilapisi dengan zat cair (Biasanya air). Dalam hal ini zat padat hanya berperan sebagai penyangga (penyokong) dan zat cair sebagai fase diamnya (Sastrohomidjojo, 1985)

Fase diam zat cair umumnya adsorbsikan pada penyangga padat yang sejauh mungkin inert terhadap senyawa-senyawa yang akan dipisahkan. Zat padat yang digunakan sebagai penyokong harus menyerap dan menahan fase diam, serta harus membuat permukaannya seluas mungkin untuk mengalirnya fase bergerak. Dalam kromatografi partisi fase bergeraknya dapat berupa zat cair atau zat gas yang mengalir membawa komponen-komponen campuran sepanjang kolom. Jika fase bergeraknya dari zat cair, akan diperoleh kromatografi partisi cair-cair.

Teknik ini banyak digunakan untuk pemisahan senyawa-senyawa baik organik, maupun anorganik. Kromatografi partisi terutama dilakukan pada kromatografi kertas. Pada kromatografi partisi pemisahan tergantung pada kelarutan komponen yang lebih larut dan fase diam akan bergerak lebih lambat dalam kolom daripada yang kurang kelarutannya. Selama bergerak komponen-komponen dari campuran mengalami partisi akibat adanya perpindahan komponen di antara kedua fase.

Dalam kromatografi partisi cair-cair derajat partisi suatu senyawa tertentu di antara kedua fase dinyatakan sebagai koefesiensi partisi atau distribusi (Kd). Bila suatu zat terlarut dikocok dalam sistem dua pelarut yang saling tidak bercampur, waktu zat terlarut akan terdistribusi di antara kedua fase dan jika kesetimbangan tercapai maka koefesiensi partisinya.

Kd =

Teori dasar kromatografi partisi mirip dengan teori destilasi bertingkat yang menghubungkan laju pergerakan suatu wilayah (Zona) dengan koefesiensi partisi diberikan persamaan.

Rf =

Dengan Am dan As masing-masing adalah luas wilayah fase bergerak dan luas wilayah fase diam. Rf adalah perbandingan jarak yang ditempuh zat terlarut terhadap jarak yang ditempuh pelarut (Yaxid, 2005)

Beberapa alat-alat analis dapat digabungkan dengan metode pemisahan untuk analis secara on line. (On line Analisys) seperti : Penggabungan kromatografi gas (Gas Chomotrogaphy) dan kromatografi cair (Liquid Chomotography) dengan mass spectometry (Gc-ms dan Lc-Ms) founer-transform infrared spectroscopy (Gc-FTIR), dan diode-array UV-VIS (HPLC-UV-VIS).

Kromatografi Cair (Liquid Chomotrogaphy)

Kromatografi Cair merupakan teknik yang tepat untuk memisahkan ion atau molekul yang terlarut dalam suatu larutan. Jika larutan sampel berinteraksi dengan fase Stasioner, maka molekul-molekul di dalamnya berinteraksi dengan fase Stasioner. Namun interaksinya berbeda dikarenakan perbedaan daya serap (Adsorption), pertukaran ion (Ion Exchange), partisi (Parthioning), atau ukuran. Perbedaan ini membuat komponen terpisah satu dengan yang lain dan dapat dilihat perbedaannya dari lamanya waktu transit komponen tersebut melewati kolom.

  1. Terdapat beberapa jenis kromatografi Cair, yaitu : Reverse Phase Chromotography, High Performace Liquid Chromotography (HPLC), Sizp Exdulin Chromotography, serta Superentical Fluida Chromotography.
  2. Reverse Phase Chromotography

Reverse Phase Chromotography merupakan alat analitikal yang kuat dengan memadukan sifat hidrofobik serta rendahnya polaritas fase stasioner yang terikat secara Kimia pada padatan inert seperti silika. Metode ini digunakan untuk proses ekstrasi dan pemisahan senyawa yang tidak mudah menguap (Non Volalite).

  1. High Performace Liquid Chromotography (HPLC)

High Performace Liquid Chromotography (HPLC), mempunyai prinsip yang mirip dengan reverse phase . Hanya saja dalam metode ini, digunakan tekanan dan kecepatan yang tinggi. Kolom yang digunakan dalam HPLC lebih pendek dan berdiameter lebih kuat. Namun dapat menghasilkan beberapa tingkatan equilibium dalam jumlah besar sehingga dapat disimpulkan HPLC sangat tergantung pada tekanan dan kecepatan.

Partisi Zat Terlarut berlangsung dipelarut yang turun ke bawah (fasa mobil) dan pelarut yang teradsorbsi oleh adsorbsen (Fasa Stasioner). Selama perjalanan turun, zat terlarut akan mengalami proses adsorbsi dan partisi berulang-ulang. Laju penurunan berbeda untuk masing-masing zat terlarut dan bergantung pada koefesiensi partisi masing-masing zat terlarut. Akhirnya, zat terlarut akan terpisahkan membentuk beberapa logam.

  1. Kromatografi Kertas.

Mekanisme pemisahan dengan Kromatografi kertas prinsipnya sama dengan mekanisme pada Kromatografi kolom adsorben dalam Kromatografi kertas adalah kertas saring, yakni selulosa. Sampel yang akan dianalisis ditutulkan ke ujung kertas yang kemudian digantung dalam wadah. Kemudian dasar kertas saring dicelupkan ke dalam pelarut yang mengisi dasar wadah. Fasa mobil (pelarut() dapat saja beragam. Air, etanol, asam asetat, atau campuran zat0zat ini dapat digunakan.

Kromatografi kertas diterapkan untuk analisis campuran asam amilase dengan sukses besar. Karena asam amino memiliki sifat yang sangat mirip, dan asam amino larut dalam air dan tidak mudah menguap (Tidak mungkin di distilasi), pemisahan asam amino adalah paling sukar yang dihadapi kimiawan di akhir abad 19 dan abad 20. Jadi, penemuan kromatografi kertas merupakan berita sangat baik bagi para ilmuwan.

  1. Kromatografi Gas

Campuran gas dapat dipisahkan dengan kromatografi gas. Fasa Stasioner dapat berupa padatan (Kromatografi Gas-Padat) atau cairan (Kromatografi Gas-Cair).

Umumnya untuk Kromatografi gas-padat. Sejumlah kecil padatan inert misalnya karbon teraktivasi, alumunium teraktivasi, silika gel atau saringan molekuler diisikan ke dalam tabung logam gulung yang panjang (2-10 m) dan tipis. Sedangkan untuk Kromatografi gas – cair ester seperti, ktalil dodesilsulfat yang diadsorbsi di permukaan alumunium teraktivasi, silika gel atau saringan molekuler, digunakan fasa diam dan diisikan ke dalam kolom, Metode ini khususnya sangat baik untuk analisis senyawa organik yang mudah menguap seperti hidrokarbon dan ester – analisis minyak mentah dan minyak astirid dalam buah telah dengan sukses dilakukan dengan teknik ini. Easiensi pemisahan ditentukan dengan besarnya interaksi antara sampel dan cairannya. Berdasarkan hasil ini, cairan yang lebih khusus kemudian dapat dipilih.

­          Size Exclusion Chromotography

Size Exclusion Chromotography, atau yang dikenal juga dengan gel permeation atau filtration Chromotography, biasa digunakan untuk memisahkan dan memurnikan protein. Metode ini tidak melibatkan berbagai macam penyerapan dan sangat cepat. Perangkat kromatografi berupa gel berpori yang dapat memisahkan molekul besar dan molekul kecil. Molekul besar akan terelusi terlebih dahulu karena molekul tersebut tidak dapat penetrasi pada pori-pori.

  1. 1.      Kromatografi Pertukaran Ion-Ion P(Ion Exchange Chromotography)

Kromatografi Pertukaran Ion-Ion P(Ion Exchange Chromotography) biasanya digunakan untuk penurunan materi biologis, seperti asam amino, peptida, dan protein. Metode ini dapat dilakukan dalam dua tipe, yaitu dalam kolom maupun ruang datar (planar) terdapat dua tipe penukaran ion. Yaitu penukaran kation (Cation Exchange) dan pertukaran Anion (Anion Exchange). Pada pertukaran kation, fase stasioner bermuatan negatif. Sedangkan pada fase Anion, fase stasioner bermuatan positif. Molekul bermuatan yang berada pada fase cair akan melewati kolom diperlukan penambahan larutan dengan pH dan kekuatan ionik tertentu. Pemisahan dengan menggunakan metode ini sangat selektif dan karena biaya untuk menjalankan metode ini murah serta kapasitasnya tinggi. Maka metode menjalankan metode ini biasa digunakan pada awal proses keseluruhan.

  1. 2.      Kromatografi Partisi

Prinsip Kromatografi Partisi dapat dijelaskan dengan hukum partisi yang dapat diterapkan pada sistem multi komponen yang telah dibahas di bagian sebelumnya. Dalam Kromatografi partisi. Ekstraksi terjadi berulang-ulang dalam satu proses. Dalam percobaan zat terlarut didistribusikan antara fase stasioner dan fasa mobil. Fase stasioner dalam banyak kasus pelarut. Stasioner dan fasa mobil. Fase stasioner dalam banyak kasus pelarut diabsorpsikan pada adsorbasen dan fasa mobil adalah molekul pelarut yang mengisi ruang antara partikel yang teradsorbsi.

Contoh khas Kromatografi adalah Kromatografi kolom, yang digunakan luas karena sangat efisien untuk pemisahan senyawa organik.

BAB 3

METODOLOGI PERCOBAAN

3.1              Alat dan Bahan

3.1.1        Alat

­          Beker Gelas

­          Penggaris

­          Kertas Saring

­          Oven

3.1.2        Bahan

­          Tinta Hijau

­          Tinta Merah

­          Tinta Biru

­          Ekstrak Pandan

­          Ekstrak Kunyit

­          Aquades

­          Etanol

­          N-Heksana

­          Kertas Saring

3.2              Prosedur Percobaan

3.2.1        Dalam Aquades

­          Dipotong kertas persegi panjang dengan ukuran panjang 10 cm dan lebar 6 cm (2 potongan)

­          Diberi tanda batas pada bagian atas dan bawah 1 cm.

­          Diberi Noda (titik) kertas pertama tinta hijau, biru, merah dan kertas kedua ekstrak pandan dan kunyit.

­          Di masukan ke dua kertas tersebut ke dalam gelas Kimia yang telah diisi aquades yang7 tingginya sekitar 10.5 cm.

­          Dibiarkan cair merembes naik hingga 1 cm, di bawah batas atas kertas, diambil dan dikeringkan.

­          Diukur jarak yang ditempuh pelarut dan komponen pada yang dipisahkan.

­          Dihitung harga Rf masing-masing noda.

3.2.2        N-Heksana

­          Dipotong kertas persegi panjang dengan ukuran panjang 10 cm dan lebar 6 cm (2 potongan).

­          Diberi tanda batas pada bagian atas dari bagian bawah 1 cm

­          Diberi noda (titik) kertas yang pertama tinta biru, hijau, dan merah dan kertas yang kedua ekstrak pandan dan ekstrak kunyit.

­          Dimasukkan kedua kertas tersebut ke dalam gelas Kimia yang telah diisi N-Heksana yang tingginya sekitar 0.5 cm.

­          Dibiarkan air merembes naik hingga 1 cm di bawah batas atas kertas, diambil dan dikeringkan.

­          Diukur jarak yang ditempuh pelarut dan komponen noda yang7 dipisahkan .

­          Dihitung harga Rf masing-masing noda.

3.2.3        Alkohol (etanol)

­          Dipotong kertas persegi panjang dengan panjang 10 cm dan lebar 6 cm (2 potongan).

­          Diberi tanda batas pada bagian atas dan bagian bawah 1 cm.

­          Diberi noda (titik) kertas yang pertama tinta biru, hijau, dan merah dan kertas yang kedua ekstrak pandan dan kunyit.

­          Dimasukkan kedua kertas tersebut ke dalam gelas kimia yang telah diisi etanol yang tingginya sekitar 0.5 cm.

­          Dibiarkan air merembes naik hingga 1 cm di bawah batas atas kertas, diambil dan dikeringkan.

­          Diukur jarak yang ditempuh pelarut dan komponen noda yang dipisahkan.

­          Dihitung harga Rf masing-masing noda.

BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

4.1              Hasil Pengamatan

 

No Pelarut Noda Jarak Noda Jarak Pelarut Rf
1 Alkohol Ekstrak Pandan

Ekstrak Kunyit

Tinta Merah

Tinta Biru

Tinta Hijau

6 cm

6 cm

5,7 cm

6,6 cm

6,6 cm

6,9 cm

6,9 cm

6,75 cm

6,75 cm

6,75 cm

0,87 cm

0,87 cm

0,84 cm

0,98 cm

0,98 cm

2N-HeksanaEkstrak Pandan

Ekstrak Kunyit

Tinta Merah

Tinta Biru

Tinta Hijau

0 cm

1,5 cm

0 cm

0 cm

0 cm

6,8 cm

6,8 cm

6,6 cm

6,6 cm

6,6 cm

0 cm

0,22 cm

0 cm

0 cm

0 cm

3AirEkstrak Pandan

Ekstrak Kunyit

Tinta Merah

Tinta Biru

Tinta Hijau

0 cm

0,5 cm

0 cm

9 cm

8,8 cm

6,8 cm

6,8 cm

9,2 cm

9,2 cm

9,2 cm

0 cm

0,074 cm

0 cm

0,98 cm

0,96 cm

4.2              Perhitungan

4.2.1        Ekstrak Pandan

­          Alkohol

Rf        =

Rf        =  = 0,87 cm

­          N-Heksana

Rf        =

=  = 0 cm

­          Air (H2o)

Rf        =

Rf        =  = 0 cm

4.2.2        Ekstrak Kunyit

­          Alkohol

Rf        =

Rf        =  = 0,87 cm

­          N-Heksana

Rf        =

=  = 0,22 cm

­          Air (H2o)

Rf        =

Rf        =  = 0,074 cm

4.2.3        Tinta Merah

­          Alkohol

Rf        =

Rf        =  = 0,84 cm

­          N-Heksana

Rf        =

=  = 0 cm

­          Air (H2o)

Rf        =

Rf        =  = 0 cm

4.2.4        Tinta Biru

­          Alkohol

Rf        =

Rf        =  = 0,98 cm

­          N-Heksana

Rf        =

=  = 0 cm

­          Air (H2O)

Rf        =

Rf        =  = 0,98 cm

4.2.5        Tinta Hijau

­          Alkohol

Rf        =

Rf        =  = 0,98 cm

­          N-Heksana

Rf        =

=  = 0 cm

­          Air (H2o)

Rf        =

Rf        =  = 0,96 cm

4.3              Pembahasan

Kromatografi adalah suatu teknik pemisahan molekul berdasarkan perbedaan pola pergerakan pola pergerakan antara fase gerak dan fase diam untuk memisahkan komponen (berupa molekul) yang berada pada larutan. Molekul yang terlarut dalam fase gerak, akan melewati kolom yang merupakan fase diam. Molekul yang memiliki ikatan yang kuat dengan kolom akan cenderung bergerak lebih lambat dibanding molekul yang berikatan lemah. Dengan ini, berbagai macam tipe molekul dapat dipisahkan berdasarkan pergerakan pada kolom.

Teknik Kromatografi kertas diperkenalkan oleh Consisten, Gordon dan Martin (19440, yang menggunakan kertas saring sebagi. Penunjang fase diam, kertas merupakan selulosa murni yang mempunyai afinitas besar terhadap atau pelarut polar lainnya. Bila air diadsorbsikan pada kertas akan membentuk lapisan tipis yang dapat dianggap analog dengan kolom. Lembaran kertas berperan sebagai penyangga dan air bertindak sebagai fase diam yang terserap di antara struktur pori kertas. Kromatografi kertas digunakan baik untuk analisa kualitatif maupun kuantitatif. Senyawa-senyawa yang dipisahkan kebanyakan bersifat sangat polar, misalnya asam amino, gula atau pigmen-pigmen alam.

Fase diam di dalam suatu percobaan terutama pada percobaan tentang Kromatografi ialah sampel yang digunakan ini berperan sebagai fase diam yang menyerap pelarut sehingga titik atau noda dapat bergerak ke atas tergantung sifat noda yang terdapat di dalamnya.

Pada Kromatografi gas dan semua percobaan Kromatografi kolom hasil pemisahnya diberikan dalam harga waktu. Waktu retensi (Tr) adalah waktu yang dibutuhkan oleh molekul komponen untuk melintasi suatu kolom yang panjangnya L. Tm adalah waktu yang dibutuhkan oleh fase bergerak untuk melintasi kolom. Volume retensi merupakan besaran pokok yang diukur dalam Kromatografi gas. Volume retensi adalah volume gas pembawa yang diperlukan untuk menggerakkan pita komponen pada keseluruhan panjang suatu kolom.

Pengukuran tR dan vR dipengaruhi oleh bentuk kolom dan pengoperasiannya, sehingga tidak karakteristik untuk suatu komponen. Agar pengaruh tersebut dapat dieleminis. Dapat dilakukan pembandingan waktu retensi komponen dengan senyawa yang sudah diketahui pada kondisi pengukuran yang sama tm adalah waktu retensi fase gerak atau komponen yang inert seperti udara yang tiodak ditahan sewaktu melintasi kolom.

Dalam teknik Kromatografi, sampel yang merupakan campuran dari berbagai macam komponen ditempatkan di dalam situasi dinamis dalam sistem yang terdiri dari fase diam, dan fase bergerak. Semua pemisahan pada Kromatografi tergantung pada gerakan relatif dari masing-masing komponen di antara kedua fase tersebut. Senyawa atau komponen yang tertahan (terhambat) lebih lama oleh fase diam akan bergerak lebih cepat daripada komponen yang tertahan lebih kuat. Oleh karena itu dalam Kromatografi, pemilihan terhadap fase bergerak maupun fase diam itu dalam Kromatografi. Pemilihan terhadap fase bergerak maupun fase diam perlu dilakukan sedemikian rupa sehingga semua komponen bisa bergerak dengan kecepatan berbeda-beda agar dapat terjadi proses pemisahan. Secara umum dikatakan bahwa Kromatografi adalah suatu proses migrasi diferensial dinamis dalam sistem di mana komponen-komponen cuplikan ditahan secara selektif oleh fase diam.

Saat campuran asam amino manaiki lembaran kertas secara vertikal karena ada fenomena kapiler, partisi, asam amino antara fasa mobil dan fase diam yang teradsorbsi pada selulosa berlangsung berulang-ulang yang teradsorbsi pada selulosa berlangsung berulang-ulang ketika pelarut mencapai ujung atas kertas proses dihentikan Setiap asam-amino bergerak dari titik awal sepanjang jarak tertentu dari nilai R, masing-masing asam-amino diidentifikasi.

Sifat pelarut pada alkohol (etanol) bersifat semi polar sehingga pelarut alkohol dapat melarutkan nada yang bersifat polar dan non polar. Sifat pelarut pada N-Heksona bersifat non polar sehingga pelarut N-Heksona hanya dapat melarutkan noda yang bersifat sejenis yaitu non polar. Sedangkan pada pelarut aquades bersifat polar sehingga aquades dapat melarutkan noda yang sifatnya sejenis.  Sifat noda yang terjadi pada pelarut alkohol bersifat semi polar karena semua noda yang diuji dengan Alkohol dapat bereaksi. Sifat noda yang terjadi pada pelarut N-Heksona pada kunyit bersifat non polar karena ekstrak kunyit dapat larut dalam pelarut N-Heksona yang bersifat non polar. Sedangkan pada noda ekstrak pandan, Tinta merah, hijau, biru bersifat polar terhadap pelarut N-Heksona. Sifat noda yang terjadi pada pelarut Aquades pada kunyit, Tinta biru, hijau bersifat polar karena dapat larut dalam Aquades yang bersifat polar. Sedangkan noda ekstrak pandan dan tinta merah bersifat non polar karena tidak dapat larut dalam aquades.

Didalam suatu percoabaan atau praktikum tentunya di dalam lab atau laboratorium terdapat alat-alat yang digunakan saat akan melakukan praktikum, setiap alat memiliki kegunaan dan faedahnya masing-masing seperti gelas ukur gunanya untuk mengukur suatu bahan yang akan diuji, kertas saring sebagai media dalam percobaan kromotografi yang menjadi fase diam, dan masih banyak lainnya.

Didalam suatu percobaan atau praktikum tentunya terdapat suatu kendala atau hambatan. Kendala tersebut tidak dapat luput dari faktor kesalahan. Faktor tersebut diantaranya jarak titik nada satu dengan lainnya terlalu dekat sehingga saat dimasukkan ke dalam gelas ukur yang terdapat pelarut titik noda akan menyatu. Pemotongan kertas sering tidak sesuai dengan serat atau alurnya. Hal ini membuat titik noda berjalan lama, pemasangan kertas tidak rata, dan masih banyak lainnya. Eluen adalah zat yang terlarut dalam suatu campuran.

Pada sampel ekstrak pandan saat diuji dengan alkohol bersifat semi polar karena jarak noda dapat menempuh 6 cm sehinggar Rf-nya 0,87 cm hal itu membuktikan bahwa ekstrak pandan dapat bereaksi dengan alkohol, begitupun dengan sampel-sampel yang diuji dengan alkohol. Berbeda dengan pelarut air dan N-Heksona yang bersifat air polar dan N-Heksona non polar RF-nya ada yang hasilnya nol dalam artiannya sampel tidak bereaksi dengan pelarutnya dan ada juga yang RF-nya besisa dalam artian sampel dapat bereaksi dengan pelarutnya.

BAB 5

PENUTUP

 

5.1 Kesimpulan

-        Suatu sampel dikatakan polar, non polar dan semi polar apabila sampel tersebut dapat bergerak di kertas saring. Pergerakan tersebut juga disebut dengan jarak noda.

-        Sampel yang diuji dengan Alkohol dapat bergerak di kertas saring. Hal itu karena sifat dari Alkohol semi polar.

-        Sampel yang diuji dengan Air ada yang bergerak ada yang tidak. Hal itu karena sifat dari Air adalah polar. Air tersebut hanya bereaksi dengan sejenisnya yaitu polar.

-        Sampel yang diuji dengan Naftalena ada yang bergerak dan ada yang tidak. Hal itu karena sifat dari Naftalena non polar. Naftalena hanya bereaksi dengan sejenisnya yaitu non polar.

5.2 Saran

Hendaknya dilakukan percobaan dengan menggunakan analisa kromotografi kolom, agar dapat membandingkan hasilnya dengan kromotografi kertas.

BAB 1

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

Stokiometri merupakan dasar dalam mempelajari ilmu kimia, khususnya mengenai kuantitas zat yang terlibat baik sebelum maupun sesedah reaksi.Stokiometri adalah perbandingan relatif reaksi pembentukan senyawa atau zat dan unsur-unsurnya. Konsep yang mendasar dari stokiometri  adalah konsep mol. Dari konsep mol, Stokiomeri  dapat digunakan untuk pengukuran bobot molekul, bobot unsur dan bobot equivalen. Dari mol dapat dapat diketahui berapa jumlah atom atau molekul yang terdapat dalam suatu larutan atau beberapa volume suatu gas pada suhu tertentu. Dari konsep mol juga dapat dituliskan persamaan kimia yang terjadi antara dua buah benda unsur atau senyawa.

Suatu persamaan kimia meringkas secara jelas mengenai informasi zat-zat yang terlibat dalam reksi. Persamaan ini tidaklah sekedar pernyataan kualitatif yang menjelaskan seberapa banyak pereaksi dan hasil reaksi yang terlibat.

Ada salah satu cara yang sangat mudah untuk mempelajari stokiometri beberapa reaksi, yaitu metode kontinyu. Dengan mengubah-ubah kuantitas molar, pereaksinya diubah –ubah sedangkan kuantias molarnya tetap, kemudian salah satu fisisnya diamati. Salah satu sifat fisik tertentu dipikih untuk diperiksa, seperti misanya, masa, volume,suhu,atau daya serap. Oleh karena itu kuntitas pereaksinya berlainan, maka perubaha harga sifat fisika dari sistem ini dapat digunakan untuk menghitun stokiometri sistem.

Percobaan ini sendiri dilakukan agar praktikan dapat memahami konsep stokiometri secara langsung.Selain itu praktikan juga dapat menentukan reaksi berlangsung stokiometri atau non stokioketri dan juga dapat menentukan titik maksimum dan titik minimum pada suatu sistem stokiometri.

1.2  Tujuan percobaan

-     Menentukan titik maksimum dan titik minimum pada stokiometri sistem NaOH – HCl

-      Menentukan titik maksimum dan titik minimum pada stokiometri sistem NaOH – H2SO4

-     Mengetahui prinsip dasar dalam percobaan stokiometri

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

Kata stokiometri berasal dari bahasa yunani yaitu stochion artinya unsur dan materia berarti ilmu ukur. Istilah umumnya digunakan lebih luas yaitu meliputi barmacam-macam pengukuran yang lebih luas dan meliputi perhitungan zat dan campuran kimia. Proses membuat perhitungan yang didasarkan pada rumus-rumus dan persamaan-persamaan yang berimbang dirujuk sebagai stokiometri.

  1. Persamaan kimia

Adalah lambang yang dinyatakan dalam suatu reaksi kimia. Dalam persamaan kimia, yang berada disebelah kiri tanda panah disebut pereaksi dan yang ada disebelah kanan diseut hasil reaksi. Pereaksi adalah zat apa saja yang mula-mula terdapat da kemudian diubah selama suatu reaksi kimia. Sedangkan hasil reaksi adlah zat apa saja yang dihasilkan selama reksi kimia.

Ada 3 utama reaksi yang memberikan contoh persamaan reaksi yaitu :

  1. Reaksi gabungan langsung adalah suatu reaksi dari dua unsur yang dihasilkan suatu senyawa.Contohnya:

2H2 + O22H2O

  1. Reaksi penukar gantian adalah reaksi suatu penukar unsur dengan suatu senyawa yang menghasilkan unsur dan senyawa lain.Contoh:

2Na + H2SO4  Na2SO4 + H2

  1. Reaksi penukar gantian rangkapadalah reaksi dari dua senyawa yang menghasilkan dua senyawa berlainan yang saling menukar komponennya. Contoh:

NaOH + HCl  NaCl +H2O

Jenis-jenis reaksi kimia:

  1. Pembakaran
  2. Penggabungan
  3. Penguraian
  4. Redoks dan lain-lain
  5. Penulisan rumus kimia

Kita dapat memperoleh banyak keterangan tentang jenis dan banyaknya atom yang bersenyawa secara kimia dalam suatu satuan zat dari rumus zat tersebut. Terdapat beberapa rumus, diantaranya adalah rumus empiris dan rumus molekul. Suatu molekul menyatakan angka banding bilangan bulat terkecil dari atom-atom dalam suatu senyawa.Berbeda rumus molekul dan rumus empiris dan dapat digambarkan dengan senyawa hidrogen peroksida. Rumus molekulnya adalah H2O2, sedangkan rumus empirisnya O2 (Petrucci, 1987).

Terdapat tiga kemungkinan hubungan yang perlu dipertimbangkan, yaitu sebagai berikut:

-          Rumus molekul dan rumus empiris dapat identik seperti CCl4.

-          Rumus molekul dapat merupakan sebuah penggandaan dari rumus empiris yaitu H2O2

-          Suatu senyawa dalam keadaan padat dapat memiliki rumus molekul. Contohnya:NaCl, MgCl2, NaNo3,dan lain-lain.

-          Rumus unsur

Untuk kebanyakan unsur umumnya cukup berupa lambangnya saja.Misalnya: Na (Natrium),K (Kalium).

Namun ada juga unsur yang lazim dikenal selalu berupa molekul, yaitu sebagai berikut:

-             Diatom = H2, N, O2, F2, Cl2, Br2, I2

-            Triatom = O3 (ozon)

-            Poliatom = S8, R4 dan lain-lain

-            Rumus senyawa

Rumus suatu zat adalah rumus unsur suatu molekul dari zat itu, misalnya H2O. Rumus tidaklah menujuk ke suatu molekul tertentu melaninkan sekedar menununjukan besarnya satuan yang memiliki angka banding terkecil dari atom-atom dalam zat itu.

  1. Bobot molekul dan bobot rumus

Mol didefinisikan sebagai banyaknya zat yang mengandung satuan-satuan nyata sebanyak atom dalam 12 gr Nuklida karbon . Satuan nyata itu dapat berupa atom, molekul, ion, maupun elektron. Karena 12 gr karbon mengndung atom sebanyak bilangan avogrado, maka 1 mol zat apa saja mengandung 6,203 23 partikel elementer.

Jika partikel itu molekul, bobot dalam gram dari satu mol zat disebut bobot gram molekul (biasanya juga disebut bobot molekul). Jadi bobot molekul H2 adalah 2,016 gr dan mengandung 6,02323 partikel elementer, dalam hal ini molekul H2 .

Jika partikel elementernya atom, bobot dalam gr dari mol zat itu disebut bobot gram atom (bobot atom). Bobot atom tembaga adalah 63,59 gr dan mengandung 6,02323 atom Cu.

Istilah bobot gram rumus (bobot rumus) adalah penjumlahan dari bobot-bobot aatom semua atom dalam rumus kimia suatu zat, dan normalnya sama dengan bobot molkulnya.Beberapa ahli kimia menggunakan bobot rumus bukanya bobot molekul dalam kasus-kasus dimana kurang benar untuk berbicara mengenai molekul suatu zat, terutama senyawa ion. Dalam natrium klorida (NaCl) misalnya, satuan terkecilnya dalam zat padat adalah ion-ion Na+ dan Cl-, molekul NaCl itu tidak ada, karena mol seperti didefinisikan diatas, merujuk ke molekul. Istilah bobot molekul akan digunakan sebagai sinonim dengan bobot rumus dalam kasus-kasus semacam itu.

  1. Sistem konsentrasi
    1. Molaritas

Sistem konsentrasi ini didasarkan volume larutan dan karena itu paling sering digunakan dalam prosedur laboratorium dimana volume larutan merupakan kuantitas yang diukur. Menyatakan jumlah mol (n) zat terlarut dalam tiap liter larutan.

Molaritas   L-1

M dimana n

M

Keterangan:

g = gram zat terlarut

BM = bobot molekul zat terlarut

  1. Formalitas

Sistem konsentrasi ini didefisinikan sebagai banyaknya bobot rumus zat terlarut per liter larutan.

F

F

  1. Normalitas

Sistem konsentrasi ini didefinisikan jumlah gram ekuivalen zat terlarut dalam tiap liter larutan atau menunjukan jumlah tara zat yang terlarut dalam satu liter larutan atau nilai jumlah tara zat yang terdapat dalam satu ml larutan.

Keterangan: N = Normalitas

Ek= Banyaknya ekuivalen

V= Volume larutan

BE= Bobot ekuivalen

  1. Persen bobot

Sistem ini memberikan berapa gram zat terlarut per 100 gram larutan.Secara matematis, dinyatakan sebagai berikut.

P =

  1. Bagian tiap juta (ppm)

Sistem ini memberikan beberapa bagian suatu komponen itu dalam satu juta bagian campuran secara matematis, sebagai berikut:

(Syukuri, 1999).

  1. Variasi kontinyu

Dari dasar percobaan adalah metode job atau metode kontinyu. Dalam metode ini dilakukan sederet pengamatan yang kuantitas molar pereaksinya berubah-ubah. Salah satu sifat fisika tertentu dipilih untuk diperiksa misalnya masa, volume, suhu dan daya serap.

Oleh karena itu kuantitas pereaksinya berlainan, perubahan harga sifat fisika dan sistem ini dapat digunakan untuk meramal stokiometri sistem. Bila digambarkan grafik aliran sifat fisika yang diamati terhadap pereaksi kuantitas pereaksinya, maka akan diperoleh suatu titik maksimum atau titik minimum yang sesuai dengan titik stokiometri sistem.yaitu yang menyatakan perbandingan pereaksi-pereaksi dalam senyawa, contohnya pemeriksaan sistem perak nitrat – kalium kromat dengan metode variasi kontinyu.

  1. Hubungan bobot dalam reaksi

Reaksi berimbang merupakan dasar untuk menghitung hubungan bobot reaksi dan hasil reaksi. Sesuai dengan hukum kekekalan masa zat sebelum dan sesudah reaksi sama.

  1. Bobot molar dan persamaan kimia

Untuk menghitung secara kuantitas zat-zat yang terlibat dalam rekasi kimia maka semua jumlah zat dinyatakan dalam Mol. Contohnya:

  1. Rendamen teoritis lawan nyata

Banyaknya hasil reaksi yang dihitung jika reaksi itu sempurna disebut rendainen teoritis. Namun dalam praktek jarang dijumpai rendamen 10% karena banyak reaksi tidak sempurna atau terjadi kesetimbangan. Rendamen nyata dibagi dengan rendamen teoritis dikali 100% disebut rendamen presentase.

Rendamen presentase

  1. Perhitungan susunan presentase dari rumus

Banyaknya atom yang membentuk suatu molekul senyawa dibanding dengan banyaknya mol unsur  penyusun senyawa tersebut perhitungan presentase unsur penyusun senyawa didasari oleh bobot unsur-unsur danbobot 1 mol senyawa tersebut.

  1. Reaksi pembatas dan berlebihan

Pereaksi pembatas adalah zat yang habis karena itu membatasi kemungkinan reaksi berlanjut, sedangkan pereaksi lain yang tersisa disebut pereaksi yang berlebihan.

  1. Perhitungan rumus dari data eksperimen

Rumus suatu senyawa dapat ditentukan dengan menggunakan data eksperimen. Sebelum rumus molekul ditentukan, terlebih dahulu bobot molekul  dan susunan presentase bobot.

Terdapat banyak metode yang digunakan untuk menentukan presentase bobot dari unsur-unsur dalam senyawa. Metode ini bermacam-macam tergantung pada macam dan unsur-unsur penyusunannya. Dua metode klasik ialah sebagai berikut:

  1. Analisis pengendapan

Digunakan bila terbentuk senyawa yang sedikit larut

  1. Analisis pembakaran

Digunakan secara meluas jika suatu zat mengandung karbon dan hidrogen.

Rumus empiris adalah menyatakan perbandingan bilangan bulat terkecil dari atom-atom yang membentuk senyawa (Suhartono, 1982).

BAB 3

METODOLOGI PERCOBAAN

 

3.1      Alat dan bahan

3.1.1        Alat-alat

-  Gelas kimia 100 ml

-  Gelas ukur 25 ml

-  Termometer

-  Pipet tetes

3.1.2   Bahan-bahan

-  Larutan NaOH 1M

-  Larutan HCl 1M

-  Larutan H2SO4

-  Aquades

3.2  Prosedur percobaan

3.2.1   Stokiometri sistem NaOH dan HCl , 1M

- Disiapkan gelas kimia 100 ml dan gelas ukur 25 ml

- Dimasukan larutan H2SO4 1M sebanyak 6 ml kedalam gelas ukur dengan menggunakan pipet tetes, kemudian dituangkan kedalam gelas kimia.

- Dicuci bersih gelas ukur sambil menunggu mengambil larutan NaOH 1M 2 ml, diukur larutan H2SO4 tersebut dengan menggunakan termometer. Lalu diukur larutan NaOH 2ml menggunakan termometer

- Dicampurkan larutan NaOH kedalam larutan H2SO4 sehingga volume campuran sama dengan 8 ml dan diukur suhu campuran tersebut

- Dilakukan kembali pada larutan NaOH 5 ml dengan larutan H2SO4  2,5 ml, dan pada larutan NaOH 6 ml dengan larutan H2SO4 2 ml secara berurutan.

3.2.2  Stokiometri sistem NaOH dan HCl, 1 M

- Disiapkan gelas kimia 100 ml dan gelas ukur 25 ml

- Dimasukan larutan HCl 1 M sebanyak 6 ml dalam gelas ukur dengan menggunakan pipet tetes. Setelah itu dituangkan kedalam gelas kimia.

- Dicuci bersih gelas ukur sambil menunggu mengambil larutan NaOH 2ml. Diukur larutan HCl tersebut dengan menggunakan termometer, lalu diukur  larutan NaOH 2 ml menggunakan termometer yang sudah dicuci bersih

-  Dicampurkan larutan NaOH kedalam larutan HCl sehingga volume campuran sama dengan 8 ml dan diukur suhu campuran tersebut dengan menggunakan termometer

- Dilakukan kembali pada larutan NaOH 4 ml dengan larutan HCl 4 ml, dan pada larutan NaOH 6 ml dengan larutan HCl 2 m lsecara berurutan.

BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

4.1    Hasil pengamatan

4.1.1        stokiometri sistem NaOH – HCl

No 1 M ,NaOH (ml) 1 M ,HCl (ml) T NaOH THCl T campuran
2 6 31 32 31
4 4 32 31 31
6 2 32 32 31

4.1.2        Stokiometri sistem NaOH – H2SO4

No 1 M ,NaOH (ml) 1 M, H2SO4(ml) T NaOH T H2SO4 T campuran
2 6 31 33 32
5 2,5 31 32 32
6 2 32 33 32

4.2    Reaksi

-   2NaOH + H2SO4  Na2SO4 + 2H2O

-   NaOH + HCl  NaCl + H2O

4.3    Perhitungan

4.3.1   Pada percampuran 2, 4, 6 ml NaOH kedalam HCl didapatkan:

-   2 ml NaOH 1M + 6 ml HCl 1M

NaOH       +           HCl        NaCl       +             H2O

M    2 mmol            6 mmol            -                                   -

R     2 mmol            2 mmol            2mmol                        2 mmol

S     0 mmol            4 mmol            2mmol             2 mmol

Pereaksi pembatasnya adalah NaOH

Termasuk reaksi non stokiometri

Diket: Mol  NaCl : 2 mmol =  = 0,002 mol

Mr NaCl = 23 + 35 = 58

Massa NaCl = mol NaCL Mr NaCl

= 58  0,002

= 0,116 gr

-   4 ml NaOH 1M + 4 ml HCl 1M

NaOH       +           HCl         NaCl         +            H2O

M     4 mmol            4 mmol                  –                          -

R      4 mmol            4 mmol             4 mmol                4 mmol

S       0 mol             0 mmol             4 mmol                 4 mmol

Pereaksi pembatasnya adalah NaOH

Termasuk reaksi stokiometri

Diket: Mol  NaCl : 2 mmol =  = 0,004 mol

Mr NaCl = 23 + 35 = 58

Massa NaCl = mol NaCL Mr NaCl

= 58  0,004

= 0,232 gr

-   6 ml NaOH 1M + 2 ml HCl 1M

NaOH      +           HCl  NaCl         +       H2O

M           6 mmo              2 mmol                    -                         -

R           2 mmol            2 mmol                    2 mmol              2 mmol

S           4 mmol              0 mmol              2 mmol                   2 mmol

Pereaksi pembatasnya adalah HCl

Termasuk reaksi non stokiometri

Diket: Mol  NaCl : 2 mmol =  = 0,002 mol

Mr NaCl = 23 + 35 = 58

Massa NaCl = mol NaCL Mr NaCl

= 58  0,002

= 0,116 gr

4.3.2        Pada percampuran 2,5,6 ml NaOH kedalam H2SO4 didapatkan

-   2 ml NaOH 1M + 6 ml H2SO4 1M

2NaOH          +           H2SO4 Na2SO4        +         2H2O

M           2 mmol                     6 mmol             -                       -

R            2 mmol                     1 mmol            1 mmol             2 mmol

S              0 mmol                   5 mmol            1 mmol             2 mmol

Reaksi pembatasnya adalah NaOH

Termasuk reaksi non stokiometri

-   5 ml NaOH 1M + 2,5 ml H2SO1M

2NaOH              +           H2SO4Na2SO4    +      2H2O

M           5 mmol                     2,5 mmol                     -                                    -

R            5 mmol                    2,5 mmol        2,5 mmol             5     mmol

S             0 mmol                    0 mmol           2,5 mmol             5 mmol

Peraksi pembatasnya adalah H2SO4

Termasuk reaksi stokiometri

-   6 ml NaOH  1M + 2 ml H2SO1M

2NaOH            +           H2SO4 Na2SO4      +     2H2O

M           6 mmol                     2 mmol                -                                -

R            4 mmol                     2 mmol            2 mmol             4 mmol

S             2 mmol                    0 mmol            2 mmol             4 mmol

Pereaksi pembatasnya adalah H2SO4

Termasuk reaksi non stokiometri

4.4 Grafik

 

4.5 Pembahasan

Pada percobaan kali ini prinsip dasarnya adalah metode variasi kontinyu, yang bertujuan untuk menentukan titik maksimum dan titik minimum, dua larutan yang bersifat asam dan basa. Suhu dari masing-masing larutan ini dihitung, lalu dihitung pula suhu campuran dari larutan tersebut, Dengan demikian kita akan mendapatkan suhu dari masing-masing larutan maupun suhu campuranya.

Stokiometri adalah ilmu yang mempelajari tentang hubungan kuantitatif zat-zat dalam suatu reaksi kimia.Dari literatur stokiometri artinya mengukur unsur-unsur. Istilah ini umumnya digunakan lebih luas, yaitu meliputi bermacam-macam pengukurab yang lebih luas dan meliputi perhitungan zat dan campuran kimia.

Reaksi stokiometri adalah reksi sempurna, dapat dihitung, dan diukur, serta tidak meninggalkan sisa reaksi (habis bereaksi), bila direaksikan tidak menghasilkan mol sisa. Contoh dari reaksi stokiometri pada sistem campuran NaOH – HCl adalah 4 ml NaOH dan 4 ml HCl, 5 ml NaOH dan 2,5 ml H2SO4.

Reaksi non stokiometri adalah reksi yang meninggalkan sisa reaksi atau reaksi tidak keseluruhan  habis bereaksi (ada pereaksi pembatasnya).

Titik maksimum adalah stokiometri merupakan suatu titik yang menunjukan angka tertinggi dari sebuah grafik antar sifat yang diukur terhadap kuantitas pereaksinya.Contoh dari titik maksimum pada stokiometri sistem ini dilakukan percobaan sebanyak 3 kali dengan volume yang berbeda-beda yaitu H2SO4 2ml, 4 ml, 6ml dan HCl sebanyak 6ml, 4ml, 2ml dari hasil percampuran kedua senyawa dihasilkan suhu campuran yang sama yaitu 32  sehingga tidak dapat ditentukan suhu maksimum dan suhu minimum.

Titik minimum adalah titik atau suhu terendah dalam suatu reaksi dan suatu titik yang menunjukan angka kuantitas pereaksinya.

Pereaksi pembatas adalah reaksi (zat) yang habis bereaksi setelah mengalami proses reaksi karena itu membatasi kemungkinan reaksi berlanjut. Pereaksi pembatas ditentukan dengan cara membandingkan jumlah mol setiap pereaksi sesuai dengan koefisien reaksi kemudian pilih pereaksi yang nilai hasil bagi jumlah mol pereaksi dan koefisien pereaksi terkecil.Contoh dari pereaksi pembatas pada sistem stokiometri NaOH – HCl adalah 2 ml NaOH + 6 ml HCl yang menjadi pereaksi pembatasnya NaOH, 6 ml NaOH + 2 ml HCl yang menjadi pereaksi pembatasnya HCl, 2 ml NaOH + 6 ml H2SO4 yang menjadi pereaksi pembatasnya adalah 2NaOH, 6 ml NaOH + 2 ml H2SO4 yang menjadi pereaksi pembatasnya adalah H2SO4.

Pada stokiometri sistem NaOH dan HCl, ada yang menggunakan reaksi stokiometri dan reaksi non stokiometri. Reaksi yang menunjukan reaksi stokiometri adalah percobaan 4 ml NaOH 1 M dan 4 ml HCl 1 M karena pereaksinya tidak bersisa. Sedangkan reaksi yang menunjukan reaksi non stokiometri adalah percobaan 2 ml NaOH 1 M dan 6 ml HCl 1 M, 6 ml NaOH dan 2 ml HCl, karena pereaksinya masih meninggalkan sisa.

Pada stokiometri sistem NaOH dan H2SO4, terdapat reaksi stokiometri dan non stokiometri. Reaksi yang menunjukan reaksi stokiometri adalah percobaan 5 ml NaOH dan 2.5 ml H2SO4. Sedangkan reaksi yang menunjukan reaksi non stokiometri adalah percobaan 2 ml NaOH dan 6 ml H2SO4, 6 ml NaOH dan 2 ml H2SO4.Pada percobaan stokiometri terdapat juga titik maksimum , titik minimum, titik stokiometri dan pereaksi pembatas. Pada percobaan stokiometri sistem NaOH dan H2SO4 titik maksimum ada pada 6 ml NaOH dan 2 ml H2SO4 dengan suhu masing-masing 32 dan 31. Titik minimum ada pada 5 ml NaOH dan 2,5 ml H2SO4 dengan suhu masing-masing 31 dan 32.

Dan pada stokiometri sistem NaOH dan HCl titik maksimum ada pada 6 ml NaOH dan 2 ml HCl dengan suhu masing-masing 32 dan 32. Titik minimum ada pada 2 ml NaOH dan 6 ml HCl dengan suhu masing-masing 31 dan 32.

Terdapat beberapa faktor kesalahan dalam percobaan ini, antara lain adalah:

-                 Pada saat pencucian termometer sebaiknya tidak dipegang, karena akan mempengaruhi temperaturnya

-                 Pada saat pengukuran sedang berlangsung agar termometer tidak menyentuh dasr dari gelas ukur maupun gelas kimia, sehingga tidak merusak temperaturnya dan mendapatkan data yang akurat.

Grafik stokiometri sistem NaOH – HCL 1M pada suhu campuran tidak mengalami peningkatan maupun penurunan dalam tiga kali percobaan dimana volume pada sistem NaOH – HCl berbeda-beda. Suhu campuran pada sistem NaOH – HCl 1M adalah 31. Hal ini menunjukan bahwa dalam percobaan stokiometri sistem NaOH – HCl 1 M suhu campurannya tidak dipengaruhi oleh perbedaan volume. Sedangkan grafik pada stokiometri sistem NaOH – H2SO4 tidak jauh berbeda dengan sistem NaOH – HCl suhu campurannya tidak mengalami perubahan melainkan konstan yaitu suhu campurannya 32.

Dalam percobaan ini setiap proses memiliki fungsi perlakuan yang bertujuan untuk, sebagai berikut:

-       Dimasukannya kedalam gelas kimia, diukur sesuai volume dan diukur menggunakan termometer, berfungsi agar mendapatkan suhu yang akurat dari masing-masing reagen dengan volume yang berbeda pada suhunya.

-       Lalu reagennya dicampur dan digoncang sedikit agar reagennya tercampur, hal ini berfungsi untuk mengukur kapan terjadi reaksi stokiometri dan non stokiometri.

Fungsi penambahan regen pada percobaan ini yang digunakan yaitu NaOH, HCl dan H2SO4 berfungsi untuk menguji dan mencari zat-zat mana yang merupakan reaksi stokiometri atau reaksi non stokiometri, pereaksi pembatas, titik maksimum atau titik minimum dan masing-masing suhu campurannya.

BAB 5

PENUTUP

 

5.1    Kesimpulan

-                      Pada stokiometri sistem NaOH – HCl tidak terdapap titik maksimum dan titik minimum karena suhu campuran yang dihasilkan dalam tiga kali percobaan sama yaitu 31

-       Pada stokiometri sistem NaOH – H2SO4 tidak terdapat titik maksimum dan titik minimum karena suhu campuran yang dihasilkan dalam tiga kali percobaan sama yaitu 32

-       Prinsip dasar dari stokiometri adalah metode kontinyu, yaitu serangkaian pengamatan yang kuantitas molar totalnya sama tetapi masing-masing molar pereaksinya berubah-ubah (variasi)

5.2    Saran

Sebaiknya bahan-bahan yang diujikan ditambah agar praktikan dapat mengetahui perbandingan stokiometri sistem dan reaksi non stokiometri dari larutan lainnya seperti NH4OH dan CH3COOH.

BAB 1

PENDAHULUAN

 

1.1     Latar Belakang

Kehidupan manusia pada zaman sekarang tidak dapat dipisahkan dari bahan-bahan kimia. Hampir seluruhnya bagian dari kehidupan manusia berhubungan sangat erat dengan bahan-bahan kimia. Dalam bidang kehidupan rumah tangga, kesehatan, perhiasan, dan lain-lain, hampir seluruhnya menggunakan bahan kimia.

Dalam suatu reaksi kimia terdapat perbedaan laju reaksi antara reaksi yang satu dengan reaksi yang lain. Misalnya, ketika kita membakar kertas, reaksi berlangsung cepat sedangkan reaksi pembakaran minyak bumi memakan waktu yang sangat lama. Dari hal ini dapat diketahui bahwa reaksi kimia memiliki laju reaksi yang berbeda.

Laju reaksi sangat penting untuk dipelajari karena dengan mengetahui laju reaksi dan mengetahui hal-hal yang mempengaruhinya dapat menerapkannya dalam kehidupan, misalnya dalam kegiatan industri, dengan mengetahui laju reaksi dapat membuat produksi lebih terkendali sehingga didapat jumlah produk dalam waktu yang bisa diperhitungkan.

Oleh karena itu percobaan ini dilakukan agar praktikan mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi laju reaksi serta mengetahui bagaimana reaksi kimia berlangsung dan berapa laju reaksinya.

 

 

1.2 Tujuan Percobaan

-        Mengetahui pengaruh konsentrasi dan suhu dalam laju reaksi.

-        Menentukan konstanta laju reaksi.

-        Mengetahui pengaruh konsentrasi trerhadap laju reaksi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

 

Laju reaksi adalah cabang ilmu kima yang mempelajari kecepatan reaksi yang dinyatakan sebagai perubahan konsentrasi zat pereaksi atau produk reaksi tiap satuan waktu. Laju reaksi adalah cepat lambatnya suatu reaksi berlangsung. Dalam kebanyakan reaksi, laju reaksi hanya mendeteksi bahan dasar permulaan yang lenyap dan hasil yang timbul, jadi hanya reaksi keseluruhan yang dapat diamati. Perubahan keseluruhan yang terjadi kenyataannya dapat terdiri atas beberapa reaksi yang berurutan, masing-masing reaksi merupakan suatu langkah reaksi pembentukan hasil-hasil akhir.

Konsentrasi biasanya dinyatakan dalam mol per liter, tetapi untuk reaksi fase gas satuan konsentrasi dapat diganti dengan satuan tekanan seperti atmosfer (atm), milimeter mekkorium (mmHg), atau pascal (Pa). Satuan waktu dapat detik, menit, jam, hari, bulan, bahkan tahun bergantung pada reaksi berjalan cepat atau lambat. Ada dua pengertian tentang laju reaksi yaitu laju rata-rata dan laju sesaat. Laju rata-rata adalah menyatakan perubahan konsentrasi dalam selang waktu tertentu. Sedangkan laju sesaat adalah laju reaksi pada waktu tertentu. Laju sesaat dari suatu reaksi tidak dihitung tetapi diperoleh dari aluran perubahan konsentrasi terhadap waktu. Untuk mengukur laju reaksi, perlu menganalisis secara langsung maupun tak langsung banyaknya produk yang terbentuk atau banyaknya pereaksi yang tersisa setelah penggal-penggal waktu tertentu.

Faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi adalah :

  1. Sifat pereaksi
  2. Konsentrasi pereaksi
  3. Temperatur
  4. Katalisator (Sastrohamidjojo.2005)

Sifat Pereaksi

Dalam suatu reaksi kimia, tejadi pemutusan ikatan dan pembentukan ikatan baru, sehingga kelajuan reaksi harus bergantung pada macam ikatan yang terdapat dalam larutan. Secara percobaan kecepatan reaksi tergantung pada senyawa-senyawa yang melakukan reaksi bersama. Pada umumnya, makin kecil partikel pereaksi makin besar permukaan pereaksi yang bersentuhan dalam reaksi, sehingga reaksinya makin cepat. Dalam sistem heterogen yaitu dengan pereaksi berbeda wujudnya, luas permukaan sentuhan antar pereaksi sangat menentukan laju reaksi. Dalam sistem homogen luas permukaan tidak mempengaruhi laju reaksi.

  1. Konsentrasi pereaksi

Makin besar konsentrasi makin cepat laju reaksi meskipun tidak selalu demikian. Pereaksi yang berbeda konsentrasinya dapat mempengaruhi laju reaksi tertentu dengan cara yang berbeda. Percobaan menunjukkan bahwa kelajuan reaksi kimia yang bersifat homogen dan heterogen tergantung pada konsentrasi pereaksi- pereaksi. Reaksi homogen merupakan reaksi yang hanya terjadi dalam satu fasa. Reaksi heterogen berjalan yang meliputi dari pada satu fasa. Kenyataannya bahwa reaksi hetrerogen berbanding dengan luas permukaan antara fasa- fasa pereaksi. Contohnya adalah pengkaratan besi, yang merupakan reaksi yang meliputi satu fasa padatan besi dan satu fasa gas yaitu oksigan. Pengkaratan berjalan lambat bila permukaan kontak kecil, perkaratan lebih cepat bila luas kontak lebih besar.

Kelajuan suatu reaksi homogen bergantung pada konsentrasi dari pereaksi-pereaksi dalam larutan. Larutan dapat berupa cairan atau gas. Dalam larutan cair konsentrasi dari pereaksi dapat diubah berdasarkan penambahan pereaksi atau pengambilan pereaksi atau dengan mengubah volume dari sistem atau berdasarkan penambahan atau pengurangan pelarut.

  1. Temperatur

Pada umumnya jika suhu dinaikkan maka laju reaksi bertambah, sedangkan jika suhu diturunkan akan menurunkan (lambat) laju reaksi dan ini tidak bergantung apakah reaksi eksoterm atau endoterm. Untuk setiap reaksi, K naik dengan kenaikan suhu. Besarnya kenaikan berbeda-beda dari satu reaksi dengan reaksi lainnya. Suatu hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa suatu kenaikan suhu sebesar 10oC kira-kira akan mengakibatkan kenaikna laju reaksi menjadi dua atau tiga kali lipat.

  1. Katalisator

Ada beberapa reaksi dapat dipercepat oleh adanya senyawa-senyawa yang mereka sendiri tetap tidak berubah setelah reaksi berakhir. Senyawa-senyawa seperti tersebut dikenal sebagai katalisator dan pengaruh mereka dikenal sebagai katalis. Katalis dapat mempengaruhi laju reaksi. Biasanya, katalis mempercepat laju reaksi. Namun ada katalis yang memperlambat reaksi, misalnya gliserin dapat berfungsi sebagai katalis negatif untuk memperlambat penguraian hodrogen peroksida. Meskipun demikian banyak reaksi yang kelajuan reaksinya berbanding langsung dengan pangkat dan konsentrasi katalisator.

Katalis sangat berperan dalam proses biologi dan proses industri. Hampir semua reaksi dalam setiap hewan, tumbuhan dan mikroorganisme memerlikan katalis yang spesifik yang disebut enzim. Contohnya ptyalin adalah katalisator yang mempercepat perubahan tepung menjadi gula. (Hiskia.1992)

Hukum laju

Laju keseluruhan dari suatu reaksi kimia pada umumnya bertambah jika konsentrasi satu pereaksi atau lebih dinaikkan . Hubungan antara laju dan konsentrasi dapat diperoleh dari data eksperimen.

Disebut hukum laju atau persamaan laju dengan K adalah tetapan laju X dan Y dapat merupakan bilangan bulat, pecahan, atao nol. Hukum laju diperoleh secara eksperimen dan tidak bergantung pada persamaan stoikiometri. Hukum laju dapat diungkapkan dalam bentuk differensial dan bentuk integral.

Orde reaksi

Orde suatu reaksi adalah jumlah pangkat faktor konsentrasi dalam hukum laju bentuk differensial. Pada umumnya orde reaksi merupakan bulangan bulat dan kecil, namun dalam beberapa hal dapat berupa bilangan pecahan atau nol. Orde reaksi terhadap suatu zat tertentu tidak sama dengan koefisien dalam persamaan stoikiometri reaksi.

Harga n memberikan orde reaksi jika n=0, maka laju reaksinya disebut orde nol terhadap X. Hal ini berarti bahwa perubahan konsentrasi X tidak berpengaruh pada laju reaksi. (Petrucci.1987)

 

 

 

 

 

 

 

BAB 3

METODOLOGI PERCOBAAN

 

3.1    Alat dan bahan

3.1.1 Alat

-      Gelas kimia

-      Gelas ukur

-      Stopwatch

-      Hotplate

-      Termometer

-      Pipet tetes

-      Penjepit

-

3.1.2 Bahan

-      Larutan Na2S2O3 0,2 M

-      Larutan Na2S2O3 0,1 M

-      Larutan HCl 2 M

-      Larutan HCl 1 M

-      Tisu

-      Aquades

3.2  Prosedur Percobaan

3.2.1 Pengaruh konsentrasi pada laju reaksi

-     Disiapkan gelas kimia dan gelas ukur, kemudian ambil larutan Na2S2O3 0,2 M sebanyak 2 ml.

-     Dimasukkan kedalam gelas kimia yang dibawahnya berada kertas putih yang telah diberi tanda silang.

-     Dimasukkan HCl 2 M sebanyak 4 ml kedalam Na2S2O3 0,2 M sebanyak 2 ml dalam gelas kimia tersebut dan catat waktu yang diperlukan dengan menggunakan stopwatch sejak penambahan HCl hingga tanda silang tidak terlihat lagi dari atas.

-     Dilakukan langkah yang sama untuk konsentrasi larutan Na2S2O3 0,1 M, 0,2 M sebanyak 2 ml dan HCl 2 M sebanyak 4 ml.

3.2.2 Pengaruh suhu pada laju reaksi

-     Disiapkan gelas kimia dan diisi dengan Na2S2O3 0,2 M sebanyak 2ml.

-     Dipanaskan larutan tersebut pada hotplate sampai suhu 400C, setelah itu diletakkan diatas kertas putih yang telah diberi tanda silang.

-     Dimasukkan 4 ml larutan HCl 2 M ke dalam gelas kimia tersebut dan catat waktu yang diperlukan sejak penambahan HCl hingga tanda silang tidak terlihat lagi dari atas.

-     Dilakukan langkah yang sama untuk konsentrasi larutan Na2S2O3 0,1 M, 0,2 M sebanyak 2 ml dan HCl 2 M sebanyak 4 ml.

 

 

 

 

 

BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1  Hasil Percobaan

 

4.1.1 Pengaruh konsentrasi terhadap laju reaksi

[Na2S2O3]

V Na2S2O3

[HCl]

V HCl

t (sekon)

0,2 M

2 ml

2 M

4 ml

55.02

0,1 M

2 ml

2 M

4 ml

154

0,2 M

2 ml

1 M

4 ml

107

4.1.2 Pengaruh suhu (40oC) terhadap laju reaksi

[Na2S2O3]

V Na2S2O3

[HCl]

V HCl

t (sekon)

0,2 M

2 ml

2 M

4 ml

38.95

0,1 M

2 ml

2 M

4 ml

31.15

0,2 M

2 ml

1 M

4 ml

38.92

4.2    Reaksi

Na2S2O3(aq) + 2HCl(aq)            2NaCl(aq) + S(s) + SO2(aq) + H2O(l)

 

4.3    Perhitungan

4.3.1 Pengaruh konsentrasi

Diket : T1 = 55,02 s = V1  

=  -2

T2= 154 s = V2   

=  -3

T3= 107 s = V3   

=  -3

Orde reaksi :

-    

Orde reaksi :

-    

Orde reaksi total  = X + Y

= 1,46 + 0,93= 2,39

4.3.2    Pengaruh suhu (40C) terhadap konsentrasi :

-   t1 =  38,95 s  ;  v1 =  =  = 0,02567  Ms-1

-    t2 = 31,15 s  ;  v2 =  =   = 0,032Ms-1

-    t3 =  38,92 s  ;  v3 =  =   = 0,02569Ms-1

Orde reaksi :

-

Orde reaksi

-

Orde reaksi total adalah   =  x + y

= 0,33 +  = 14,86

Persamaan laju reaksi :

4.3 Pembahasan

Laju reaksi adalah cepat lambatnya suatu reaksi yang berlangsung, atau cabang ilmu kimia yang mempelajari kecepatan reaksi yang dinyatakan sebagai perubahan konsentrasi zat pereaksi atau produk pereaksi tiap satuan waktu. Laju rata-rata adalah menyatakan perubahan konsentrasi dalam selang waktu tertentu, sedangkan laju sesaat adalah laju reaksi pada waktu tertentu.

Reaksi orde nol adalah reaksi yang reaksinya tidak dipengaruhi oleh konsentrasi reaktan. Reaksi orde satu adalah reaksi yang laju reaksinya dipengaruhi oleh konsentrasi reaktan pangkat satu sehingga didapatkan grafik linier pada grafik perbandingan konsentrasi reaktan pada laju reaksi. Reaksi orde dua adalah reaksi yang laju reaksinya dipengaruhi oleh konsentrasi reaktan kuadrat sehingga didapatkan grafik berbentuk kurva pada grafik perbandingan konsentrasi reaktan dengan laju reaksi. Reaksi orde negatif adalah jika laju reaksi berbanding terbalik terhadapkonsentrasi reaktan, semakin besar konsentrasi reaktan maka semakin lambat laju reaksi.

Dalam laju reaksi juga terdapat konstanta laju reaksi. Berapa pun konsentrasi yang digonakan selalu dikalikan dengan tetapan konstanta laju reaksi hanya dipengaruhi jenis reaksi dan suhu.

Laju reaksi kimia dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain :

  1. Konsentrasi

Jika konsentrasi zat semakin besar maka laju reaksinya semakin besar pula dan sebaliknya.Hal ini karena semakin bertambahnya konsentrasi maka jumlah partikel juga bertambah sehingga kemungkinan terjadi tumbukan bertambah juga.

  1. Temperatur

Semakin tinggi temperatur suatu zat maka semakin tinggi laju reaksinya. Hal ini disebabkan dengan kenaikan suhu akan menyebabkan makin cepatnya molekul-molekul pereaksi bergerak sehingga memperbesar kemungkinan terjadinya tabrakan antar molekul.

  1. Luas permukaan

Semakin luas permukaan suatu zat maka semakin cepat laju reaksinya karena semakin kecil ukuran partikel suatu zat (permukaannya luas) maka akan menyebabkan kemungkinan tumbukan antar partikel semakin besar.

  1. Tekanan

Semakin besar tekanan yang diberikan kepada suatu reaksi kimia membuat suhu reaksi semakin tinggi, sehingga partikel-partikelnya saling bertumbukan. Hal inilah yang menyebabkan laju reaksi berjalan cepat.

  1. Katalis

Pengaruh katalis terhadap laju reaksi adalah mempercepat laju reaksi dengan cara menurunkan energi pengaktifannya. Energi aktifasi adalah sejumlah energi minimum yang harus dimiliki agar suatu reaksi kimia dapat berlangsung. Katalis adalah zat kimia yang dicampurkan kepada reaktan namun pada akhir reaksi zat kimia tersubut tidak berubah menjadi zat lain (tidak ikut bercampur).

Pada percobaan kali ini terdapat dua percobaan, yaitu pengaruh konsentrasi terhadap laju reaksi dan pengruh suhu terhadap laju reaksi. Dalam percobaan ini biberi waktu hingga tanda silang (X) pada kertas tertutupi/hilang. Tanda silang (X) tertutupi karena terbentuknya produk berupa senyawa sulfur yang berwarna putih buram. Senyawa sulfur inilah yang menyebabkan tanda silang (X) pada kertas tidak terlihat/ tertutupi jika dilihat dari atas.

Pada percobaan yang pertama ketika digunakan larutan 2 ml Na2S2O3 0,2 M dicampur dengan 4 ml HCl 1 M terbentuk endapan denga waktu 55.02 sekon. Ketika digunakan larutan 2 ml Na2S2O3 0,1 M dicampur dengan 4 ml HCl 2 M terbentuk endapan denga waktu 154 sekon, lalu ketika digunakan larutan 2 ml Na2S2O3 0,2 M dicampur dengan 4 ml HCl 2 M terbentuk endapan denga waktu 107 sekon. Dari percobaan pertama ini disimpulkan bahwa semakin besar konsentrasi larutan yang digunakan maka semakin cepat pula laju reaksinya.

Pada percobaan yang kedua adalah pengaruh suhu. Sebelum larutan HCl ditambahkan larutan Na2S2O3 terlebih dahulu dipanaskan hingga suhunya 400C. Ketika digunakan larutan 2 ml Na2S2O3 0,2 M dicampur dengan 4 ml HCl 2 M terbentuk endapan denga waktu 38.95 sekon. Ketika digunakan larutan 2 ml Na2S2O3 0,1 M dicampur dengan 4 ml HCl 1 M terbentuk endapan denga waktu 31.15 sekon. Lalu ketika digunakan larutan 2 ml Na2S2O3 0,2 M dicampur dengan 4 ml HCl 1 M terbentuk endapan denga waktu 38.92 sekon. Dari data hasil percobaan kedua dibandingkan denga percobaan pertama dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi suhu suatu larutan maka semakin cepat pula laju reaksinya.

Pada dasarnya semua perlakuan yang dilakukan dalam percobaan ini adalah untuk mendapatkan hasil yang maksimal dan mempercepat laju reaksi. Larutan dipanaskan agar kita mendapat suhu yang sesuai dan laju reaksi semakin cepat. Selain itu larutan yang dihomogenkan bertujuan agar larutan dapat tercampur merata dan sempurna.

Terdapat beberapa faktor kesalahan yang menyebabkan hasil yang didapatkan kurang maksimal, seperti ketidaktepatan saat pengukuran waktu dan suhu larutan Na2S2O3 yang telah dipanaskaun dibiarkan terlalu lama sebelum dicampur dengan HCl menyebabkan suhunya berkurang, termometer yang mengenai dasar gelas kimia, dan persepsi yang berbeda-beda dalam melihat tanda silang.

BAB 5

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

-          .Pengaruh konsentrasi dan suhu adalah jika konsentrasi dan suhu dinaikkan maka laju reaksi akan meningkat. Sedangkan bila konsentrasi dan suhu diturunkan maka laju reaksi akan berkurang (turun).

-          Laju reaksi pada percobaan pertama memiliki nilai konstanta = 0.099, dan pada percobaan kedua memiliki nilai konstanta = 0.0018

-          Dari data percobaan pertama dapat disimpulkan bahwa pengaruh konsentrasi terhadap laju reaksi adalah semakin besar konsentrasi larutan maka semakin besar pula laju reaksinya.

5.2  Saran

Sebaiknya dilakukan percobaan pengaruh katalis terhadap laju reaksi.

 

 

 

 

 

 

BAB 1

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

Unsur merupakan zat tunggal yang sederhana. Unsur dapat ditemukan dalam keadaan bebas maupun di dalam tanah. Wujud dari unsur pun berbeda antara satu dengan lainnya. Ada yang berwujud padat ada pula yang berwujud cair. Dari sistem periodik kita mengetahui bahwa ada 90 buah unsur yang terdapat dialam serta ditambah belasan unsur buatan. Selain memiliki wujud yang berbeda, setiap unsur juga memiliki perbandingan berat dan jumlah atom yang beraneka ragam. Ada yang besar, sedang maupun kecil.

Kita telah mengetahui bahwa unsur alkali terdapat pada golongan I A sedangkan unsur alkali tanah terdapat pada golongan II A. Unsur-unsur alkali terdiri dari logam Li, Na, K, Rb, Cs, Fr. Unsur-unsur alkali ini memiliki kereaktifan yang besar. Sedangkan unsur-unsur alkali tanah terdiri dari logam Be, Mg, Ca, Sr dan Ra. Unsur-unsur alkali tanah ini pada umumnya ditemukan didalam tanah.

Melalui percobaan ini kita akan mengenal lebih jauh beberapa unsur yang tergabung dalam golongan I A dan golongan II A dalam sistem periodik. Dengan percobaan ini kita akan memperoleh pengetahuan tentang kereaktifan maupun sifat-sifat unsur tersebut, sehingga kita kan mudah mengenalinya dalam kehidupan sehari-hari pada suatu sistem yang bereaksi. Oleh karena itu, percobaan ini perlu untuk dilakukan.

Pada praktikum kali ini juga akan dibahas mengenai sifat-sifat unsur, jari-jari atom, energi ionisasi, serta kereaktifan dari unsur alkali dan alkali tanah. Semua unsur golongan I A dan II A relatif mudah melepaskan elektron terluarnya. Dengan perkataan lain unsur-unsur itu mempunyai energi ionisasi yang rendah dari atas ke bawah. Jari-jari atomnya makin kecil, makin rendah energi ionisasinya. Demikian pula dengan alkali tanah. Dengan demikian logam tersebut merupakan pereduksi yang baik dan hampir semua dapat bereaksi dengan air.

1.2  Tujuan

-          Mengetahui kelarutan garam sulfat dan hidroksida, pada golongan II A

-          Mengetahui kereaktifan golongan I A dan II A

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

 

1).   Logam-logam Alkali

Golongan logam alkali merupakan golongan dari logam yang aktif (paling aktif). Logam tersebut menunjukkan energi ionisasi yang rendah, potensi elektrodenya besar dan negatif. Kesimpulannya ialah, bahwa pada umumnya keragaman sifat dalam golongan ini mudah diramalkan dari segi keberkalaan. Beberapa penyimpangan terutama ditunjukkan oleh anggota utama, yaitu Li. Beberapa perbedan Litium dan senyawanya dibanding logam alkali lain, antara lain :

-            Kelarutan senyawa karbonat, fluorida, hidroksida, dan fosfatnya rendah.

-            Kemampuannya membentuk nitrida (Li3N)

-            Pembentukan oksida normal (Li2O) bukan peroksida atau superoksida

-            Jika dipanaskan, terjadi penguraian senyawa karbonat dan hidrooksidanya menjadi oksida.

Dalam logam alkali, perbedaan ini disebabkan oleh tingginya rapatan muatan pada Li+ dibanding ion logam alkali lainnya.

Potensi elektrode. Nilai yang besar dan negatif dari potensial elektrode menyatakan kecenderungan terjadinya proses reduksi yang kecil. Sebaliknya, nilai yang besar dan negatif ini menunjukkan kecenderungan untuk proses sebaliknya, yaitu oksidasi. Kemudahan dioksidasi merupakan ciri logam aktif dan Li menunjukkan kecenderungan yang terbesar di antara logam alkali untuk menjalani oksidasi menjadi ion satu – positif dalam larutan air. Oksidasi logam alkali X berjalan menurut langkah-langkah.

-            Penyubliman padatan logam ke keadaan gas

-            Pengionan atom logam dalam keadaan gas menjadi ion logam dalam keadaan gas

-            Hidrasi ion melalui pelarutan X+(g) dalam air untuk menghasilkan X+ (aq)

2).   Logam alkali tanah

Jari-jari logam meningkat dengan bertambahnya nama atom, jari-jari ion jauh lebih kecil dari jari-jari logam karena ion membawa bersih +2. Ion logam II A (M2+) jauh lebih kecil dari ion logam I A (M+) yang berhubungan karena adanya tambahan muatan positif yang tinggi. Energi yang diperlukan untuk melepas dua elektron valensi dari atom logam alkali tanah sangat besar. Melepas satu elektron dapat dilakukan dengan energi yang jauh lebih kecil. Energi tambahan yang diperlukan untuk membentuk ion bermuatan dua dari ion bermuatan satu pada ion logam alkali tanah dapat dilampaui oleh peningkatan energi kisi pada MCl2(p) dibandingkan pada energi kisi pada MCl (p).

Ion golongan II A sulit direduksi menjadi logam bebas, karena harga potensial reduksinya besar dan negatif. Tetapi sebagaimana untuk logam golongan I A proses elektrolisis merupakan metode komersial yang paling penting dalam pembuatannya. Senyawa-senyawa logam alkali tanah, kation alkali tanah mempunyai rapatan muatan positif yang tinggi. Apabila bergantung pada anion tertentu kation tersebut akan memberikan energi kisi yang tinggi dan garam-garamnya dapat sedikit larut atau tak larut dalam air. Dalam kasus lain dimana energi kisi tidak terlalu tinggi, energi hidrasi yang tinggi dari kation mungkin mengakibatkan kelarutan dalam air dan garamnya akan mengkristal dari larutan hidrat. (Petrucci, 1987)

Dalam sistem periodik panjang unsur-unsur alkali tanah terletak pada golongan II A, yaitu satu lajur disebelah kanan golongan logam alkali. Unsur golongan II A berisi Berilium (Be), Magnesium (Mg), Calsium (Ca), Stronsium (Sr), Barium (Ba) dan Radium. Unsur ini bersifat logam karena cenderung melepaskan elektron. Unsur ini disebut logam alkali tanah karena oksidasinya bersifat biasa (alkalis) dan senyawa banyak terdapat pada kerak bumi. Seperti halnya dengan unsur alkali, unsur alkali tanah sangat reaktif walaupun tidak sereaktif unsur alkali. Unsur alkali tanah dengan dua elektron valensinya yang sangat mudah dilepaskan menandakan bahwa unsur alkali tanah sangat bersifat elektropositif, karena unsur golongan ini mudah melepaskan elektron valensinya. Maka unsur alkali tanah merupakan pereduksi yang baik, walaupun tidak sebaik sifat pereduksi unsur alkali yang seperiode.

Sesuai dengan sifat keperiodikan unsur-unsur dalam golongannya maka unsur-unsur alkali tanah makin ke bawah letaknya dalam susuan berkala makin elektropositif. Karena makin ke bawah letaknya makin banyak pula jumlah lintasannya sehingga jari-jarinya makin besar pula. Sifat pereduksi logam alkali tanah lebih kecil dari logam alkali dan jari-jari ion logam tanah lebih kecil dari alkali. (Surakkiti, 1989)

3).   Sifat Alkali (golongan I A)

Sifat logam alkali bersifat penghantar panas dan listrik, mempunyai titik lebur relatif lebih rendah dari logam lain. Hal ini disebabkan oleh logam alkali hanya melepas satu elektron, sehingga ikatan logam dalam kristalnya lemah. Titik lebur makin menurun dari atas ke bawah pada sistem periodik, karena penambahan jari-jari ion mengakibatkan gaya tarik ion positif dalam kristalnya makin lemah.

Sifat penting logam alkali tanah adalah mempunyai spektrum emisi, yang dihasilkan bila larutan garamnya dipanaskan dalam nyala bunsen, atau mengalirkan muatan listrik pada uapnya. Warna spektrum itu dapat dipakai dalam analisis kualitatif yang disebut tes nyala.

Energi ionisasi logam alkali relatif lebih rendah sehingga termasuk logam yang sangat reaktif. Karena kereaktifannya, unsur alkali tidak ditemukan dalam keadaan bebas di alam, tetapi sebagai ion positif dalam senyawa ion. Kebanyakan senyawa larut dalam air sehingga logam ini banyak terdapat dalam air laut. (Syukuri, 1999)

4).   Sifat Alkali Tanah (golongan II A)

Kemiripan sifat logam alkali tanah disebabkan oleh kecenderungan melepaskan dua elektron valensi, sehingga senyawanya memiliki bilangan oksidasi +2. Kerapatan bertambah dengan naiknya nomor atom, karena pertambahan massa atom. Demikian juga jari-jari atom dan ionnya, disebabkan bertambahnya jumlah kulit elektronnya. Tetapi, energi ionisasi, kalor hidrasi dan potensial reduksinya berkurang dengan naiknya nomor atom. Hal ini disebabkan oleh pertambahan jari-jari atom yang akan mengurangi daya tarik inti elektron atau partikel negatif di luar atom tersebut.

Nilai potensial reduksi (Eº) alkali tanah semuanya bertanda negatif, artinya logam ini lebih cenderung teroksidasi dibandingkan tereduksi. Semakin besar nomor atom, makin besar pula kecenderungan teroksidasi, untuk menjadi ion yang stabil (M2+), logam alkali tanah harus melepaskan dua elektron valensinya, sedangkan energi ionisasi II lebih besar daripada energi ionisasi I. Akibatnya, sifat pereduksi logam alkali tanah lebih kecil dari logam alkali dan jari-jari ion logam alkali tanah lebih kecil dari alkali.

Energi hidrasi ion alkali tanah lebih besar dari alkali. Karena energi itu bergantung pada jari-jari ion dan besarnya muatan. Muatan ion alkali tanah lebih besar dari ion alkali, maka daya tarik tersebut lebih kuat pada logam alkali tanah dibandingkan dengan logam alkali (Syukri, 1999).

 

BAB 3

METODOLOGI PERCOBAAN

 

 

3.1 Alat dan Bahan

3.1.1 Alat

-       Tabung reaksi

-       Pipet tetes

-       Gelas kimia

-       Pinset

-       Hot Plate

-       Penjepit tabung

-       Stopwatch

3.1.2 Bahan

-       Logam kromium

-       Pita magnesium

-       Indikator pp

-       Larutan BaCl2 1 M

-       Larutan CaCl2 1 M

-       Larutan NaOH 1 M

-       Larutan H2SO4 1 M

-       Aquades

-       Tissu

3.2 Prosedur Percobaan

3.2.1 Kelarutan garam hidrooksida

-        Disiapkan 2 tabung reaksi

-        Dimasukkan 1 pipet CaCl2 0,1 M ke dalam tabung reaksi

-       Ditambahkan 1 pipet NaOH 1 M ke dalam tabung reaksi yang berisi CaCl2 0,1      M dan diamati

-       Dimasukkan 1 pipet BaCl2 0,1 M ke dalam tabung reaksi lainnya

-       Ditambahkan 1 pipet NaOH 1 M ke dalam tabung reaksi yang berisi BaCl2 0,1 M dan diamati

-       Dibandingkan hasil antara CaCl2 + NaOH dengan BaCl2 + NaOH

3.2.2 Kelarutan Asam Sulfat

-        Disiapkan dua tabung reaksi

-        Dimasukkan 1 pipet CaCl2 0,1 M ke dalam tabung reaksi

-       Ditambahkan 1 pipet H2SO4 1 M ke dalam tabung reaksi yang berisi CaCl2 0,1 M dan diamati

-       Dimasukkan 1 pipet BaCl2 0,1 M ke dalam tabung reaksi lainnya

-       Ditambahkan 1 pipet H2SO4 1 M ke dalam tabung reaksi yang berisi BaCl2 0,1 M dan diamati

-       Dibandingkan hasil antara CaCl2 + H2SO4 dengan BaCl2 + H2SO4

3.2.3 Kereaktifan Logam Mg

-       Dimasukkan aquades ke dalam gelas kimia

-       Dipanaskan gelas kimia yang berisi aquades di atas hot plate

-       Diambil pita Mg secukupnya lalu dimasukkan ke dalam aquades yang dipanaskan dengan menggunakan pinset dan diamati

-       Dimasukkan indikator pp secukupnya ke dalam gelas kimia

-       Diamati perubahannya

3.2.4 Kereaktifan Logam Kalium

-       Dimasukkan aquades ke dalam gelas kimia

-       Diambil logam Kalium secukupnya dengan menggunakan pinset dan dimasukkan ke dalam gelas kimia yang berisi aquades dan diamati

-       Dimasukkan indikator pp secukupnya ke dalam gelas kimia

-       Diamati perubahannya

BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

4.1 Hasil Pengamatan

No.

PERLAKUAN

PENGAMATAN

  1. 2.
  1. 3.
Kelarutan garam sulfat

-          Diisi masing-masing tabung reaksi dengan CaCl 0,1 M dan BaCl2 0,1 M dipipet

-          Ditambah 1 pipet H2SO4 1 M ke dalam masing-masing reaksi

-          Diamati

Kelarutan garam hidroksida

-          Diisi masing-masing tabung CaCl2 0,1 M BaCl2 0,1 M, 1 pipet

-          Ditambah 1 pipet NaOH 1 M ke dalam masing-masing tabung.

a. Reaktifitas unsur

-            Diambil aquades

-            Dipanaskan

-            Dimasukkan pita Mg

-            Diamati

-            Ditambahkan indikator pp

-            Diamati perubahan yang terjadi

b.Kereaktifan logam K

-          Masukkan H2O ke dalam gelas kimia

-          Ambil logam Kalium ke dalam gelas kimia

-          Diamati perubahan yang terjadi

-          Ditambahkan 2 tetes indikator pp dan diamati

-          CaCl2 + H2SO4 tidak menghasilkan endapan

-          BaCl2 + H2SO4 menghasilkan endapan, berwarna putih keruh dan banyak endapan.

 

 

 

-          CaCl2 + NaOH menghasilkan endapan berwarna putih keruh dan terdapat banyak endapan termasuk endoterm

-          BaCl2 + NaOH menghasilkan endapan, berwarna lebih jernih dan terdapat sedikit endapan termasuk eksoterm

-          Setelah dipanaskan dan dimasukkan pita Mg terdapat gelembung-gelembung

-          Ditambahkan indikator pp berubah warna menjadi merah lembayung

-          Setelah ditambahkan Kalium terjadi ledupan kecil dan mengeluarkan api

-          Ditambah indikator pp menjadi berubah warna menjadi merah lembayung

 

4.2 Reaksi

­

­       Merah lembayung

­       Indikator PP + Mg(OH)2

4.3 Pembahasan

Unsur alkali adalah unsur-unsur golongan I A dalam tabel periodik unsur, yaitu Li (lithium), Na (Natrium), K (Kalium), Rb (Rubidium), Cs (sesium) dan Fr (Fransium). Fransium merupakan unsur radioaktif. Disebut logam alkali karena oksidanya larut dalam air dan menghasilkan larutan yang bersifat sangat basa (alkalis).

Unsur alkali tanah adalah unsur-unsur golongan II A dalam tabel periodik unsur yaitu Be (Berilium), Mg (Magnesium), Ca (Kalsium), Sr (Strontium), Ba (Barium), dan Ra (Radium). Radium merupakan unsur radioaktif. Disebut alkali tanah sebab oksidanya bersifat basa.

Beberapa sifat fisik unsur-unsur logam alkali sebagai berikut :

-            Jari-jari atom unsur alkali dalam tabel periodik bertambah dari atas ke bawah. Begitu juga dengan jari-jari ion positifnya. Ion positif terbentuk apabila atom netral melepas elektron, sehingga jari-jari ion positif lebih kecil daripada jari-jari atom.

-            Merupakan logam lunak karena titik didih dan titik leleh rendah. Titik didih dan titik leleh logam alkali dalam tabel periodik dari atas ke bawah semakin kecil.

-            Logam alkali merupakan logam ringan karena masa jenis logam alkali kecil.

-            Logam alkali adalah logam yang sangat lunak dan dapat diiris dengan pisau.

-

Selain sifat fisik logam alkali juga memiliki sifat kimia antara lain :

-            Atom logam alkali mudah membentuk ion positif karena logam alkali mempunyai 1 elektron valensi (ns1)

-            Daya oksidasi logam alkali sangat besar. Hal ini disebabkan jari-jari atom logam alkali sangat besar sehingga sangat mudah melepaskan elektron dari atas ke bawah tabel periodik unsur daya oksidasinya makin bertambah.

-            Logam alkali merupakan reduktor (pereduksi) yang sangat kuat. Unsur-unsur logam alkali sangat mudah melepaskan elektron.

-            Energi ionisasi, afinitas elektron, dan keelektronegatifan

-            Spektra emisi dengan warna nyala yang khas.

Beberapa sifat fisik unsur-unsur logam alkali tanah adalah sebagai berikut :

-            Jari-jari atom unsur alkali tanah dalam periodik bertambah dari atas ke bawah. Demikian juga ion positifnya. Ion terbentuk apabila atom netral melepas elektron.

-            Titik cair dan kekerasan melebihi logam alkali

Selain memiliki sifat fisik logam alkali tanah juga memiliki sifat-sifat kimia antara lain :

-            Logam alkali tanah mudah membentuk ion positif karena logam alkali tanah mempunyai 2 elektron valensi (ns2)

-            Kereaktifan logam alkali tanah besar. Hal ini disebabkan jari-jari atom logam alkali tanah besar, sehingga mudah melepas elektron. Dari atas ke bawah sifat kereaktifannya semakin bertambah.

-            Logam alkali tanah merupakan reduktor (pereduksi kuat)

-            Energi ionisasi, afinitas elektron, dan keelektronegatifan cukup besar

-            Garam logam alkali tanah menghasilkan nyala dengan warna tertentu.

 

Perbedaan Alkali dan Alkali Tanah

ALKALI

ALKALI TANAH

-          Logam yang kuat, lunak, dan mengkilap

-          Jari-jari atom besar

-          Energi ionisasi rendah

-          Afinitas elektron rendah

-          Keelektronegatifan rendah

-          Sangat reaktif

-          Titik leleh rendah

-          Titik didih rendah

-          Densitas rendah

-          Sifat basa lebih kuat daripada logam alkali tanah-          Logam yang lebih kuat dan lebih padat

-          Jari-jari atom lebih kecil dibandingkan logam alkali seperiode

-          Energi ionisasi lebih besar daripada logam alkali seperiode

-          Afinitas elektron lebih besar daripada logam alkali seperiode

-          Keelektronegatifan lebih besar daripada logam alkali seperiode

-          Kurang reaktif dibanding logam alkali seperiode

-          Titik leleh melebihi logam alkali

-          Titik didih melebihi logam alkali

-          Densitas melebihi logam alkali

-          Bersifat basa

Secara umum sifat-sifat unsur dalam sistem periodik unsur :

Kereaktifan adalah kemampuan suatu unsur untuk bereaksi. Kereaktifan golongan I A (logam alkali) dari atas ke bawah dalam tabel periodik unsur semakin besar / bertambah. Karena pada logam semakin besar jari-jari maka akan semakin reaktif hal itu disebabkan semakin besar jari-jari logam, maka elektron terluar semakin mudah untuk dilepaskan, sehingga semakin reaktif. Jadi, Fr lebih reaktif dari Cs, Cs lebih reaktif dari Rb, Rb lebih reaktif dari Na, Na lebih rektif dari Li dan Li lebih reaktif dari H.

Pada percobaan pertama ini bertujuan untuk mengetahui kelarutan garam sulfat pada golongan II A, yang pertama dilakukan adalah menambahkan H2SO4 1 M pada BaCl 0,1 M dan CaCl 0,1. Pada BaCl2 yang telah ditambahkan H2SO4, campuran itu menjadi keruh dan banyak terdapat endapan putih. Sedangkan pada CaCl2 yang telah ditambahkan H2SOcampurannya tetap berwarna putih jernih dan tidak terdapat endapan. Dari percobaan ini dapat diketahui bahwa kelarutan garam sulfat dari golongan II A adalah kelarutannya akan tambah / meningkat dari bawah ke atas.

Pada percobaan kedua ini bertujuan untuk mengetahui kelarutan garam hidroksida pada golongan II A, yang pertama dilakukan adalah menambahkan NaOH 1 M pada BaCl2 0,1 M dan CaCl 0,1 M. Pada larutan BaCl2 yang telah ditambahkan NaOH, larutan menjadi keruh namun terbentuk endapan tidak terlalu banyak. Sedangkan pada larutan CaCl2 yang ditambah NaOH larutan menjadi keruh dan terdapat banyak endapan. Sehingga dari percobaan ini dapat diketahui bahwa kelarutan garam hidroksida pada golongan II A adalah kelarutannya bertambah dari atas ke bawah.

Pada percobaan ketiga bertujuan untuk mengetahui kereaktifan logam Mg dan K. Logam Mg dimasukkan ke dalam air yang telah dipanaskan. Dibutuhkan waktu yang cukup lama hingga semua Mg larutan dalam air. Pada saat terjadi reaksi terdapat gelembung-gelembung H2. Ketika dimasukkan indikator pp ke dalam larutan tersebut, larutan tersebut berwarna merah lembayung. Hal ini menandakan bahwa larutan itu mengandung / bersifat basa. Percobaan berikutnya digunakan logam K. Logam K dimasukkan ke dalam air. Reaksinya begitu cepat. Pada saat reaksi terdapat percikan api. Percikan api itu berasal dari gas H2 yang terbentuk langsung terbakar karena reaksi sangat eksoterm. Setelah ditambahkan indikator pp ke dalam larutan, larutan berubah warna menjadi merah lembayung. Hal ini menandakan bahwa larutan ini bersifat basa. Dari percobaan tersebut dapat diketahui bahwa golongan I A lebih reaktif daripada golongan II A.

Terdapat beberapa faktor kesalahan yang menyebabkan hasil yang dapat kurang maksimal. Seperti memasukkan indikator pp larutan Mg yang belum terlarut sempurna dengan air atau Mg dimasukkan ke dalam air yang belum panas kemudian diberikan indikator pp hal tersebut menyebabkan larutan tidak berubah warna menjadi merah lembayung dan tidak bisa diidentifikasi apakah larutan itu bersifat basa.

Semua perlakuan yang dilakukan dalam percobaan ini mempunyai fungsi masing-masing. Aquades yang digunakan untuk melarutkan Mg dipanaskan terlebih dahulu adalah untuk meningkatkan kereaktifan Mg karena Mg kurang reaktif jika dibandingkan dengan K. Tetapi aquades yang digunakan untuk melarutkan K tidak perlu dipanaskan karena K sangat reaktif dan bereaksi hebat dengan H2O sehingga apabila aquades dipanaskan terlebih dahulu akan menimbulkan ledakan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 5

PENUTUP

 

5.1 Kesimpulan

Dari percobaan ini dapat disimpulkan bahwa :

-       CaCl2 memiliki kelarutan garam sulfat yang lebih besar dibanding kelarutan garam sulfat BaCl2, karena saat H2SO4 ditambahkan pada BaCl2 menghasilkan endapan sedangkan pada CaCl2 tidak menghasilkan endapan.

-       Ca memiliki kelarutan hidrooksida yang kecil. Sedangkan Ba memiliki kelarutan hidrooksida yang besar maka tidak mudah mengendap.

-       Golongan I A memiliki kereaktifan yang sangat besar karena elektron valensi yang dimiliki golongan I A hanya berjumlah 1.

-          Golongan II A memiliki kereaktifan yang rendah karena elektron valensi yang dimiliki golongan II A hanya berjumlah 2.

5.2 Saran

Sebaiknya dalam percobaan ini digunakan juga logam dari golongan I A dan II A yang lain agar hasil yang didapat lebih beragam.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: